Selasa, 08 November 2011

Cerpen

           Rumah Kejujuran
Oleh: M Taufan Musonip

1.
Apakah kalian percaya kejujuran?, kejujuran bagiku semacam catatan kecil yang kugulung dan kumasukan kedalam botol lalu kuhanyutkan. Sekarang mana ada botol-botol berkeliaran tanpa nama? Apakah kalian hanya mengharapkan gemelataknya saat mereka beradu di sebuah gubuk penadah?
Kejujuran memiliki garisnya sendiri. Terkadang seseorang tak dapat memenuhinya, bukan karena ia tidak jujur, tapi karena ia sedang kalah. Kejujuran bagaimanapun merupakan anak kandung kekuasaan. Camkan ini, anak kandung kekuasaan.
Maka sekarang bagiku kejujuran semacam catatan kecil yang kugulung dan kumasukan ke dalam botol dengan merek minuman tertentu.

2.
Aku tak pernah berpikir untuk tersingkir pada perhelatan memperjuangkan kejujuran. Orang-orang memperjuangkannya semata-mata untuk mendekati kas organisasi. Kejujuran adalah upaya menciptakan sesuatu supaya kas organisasi mengalir ke tangan setiap orang, pada saat itulah setiap orang menjadi sejahtera. Tapi di dunia ini tak pernah ada hukum kesamarataan, setiap kekuasaan adalah kantong dari momentum aliran dana.
Kupikir, hanya orang-orang yang jujurlah yang memiliki niat memanfaatkan keberadaan rumah-rumah organisasi untuk berjuang didalamnya. Meraih kekuasaan, merentang kejujuran.
Aku salah satunya, aku berada di sana bertahun-tahun. Dan kurasakan kejujuran menjadi terhambat ketika tak ada orang yang peduli rumah-rumah organisasi harus didiami banyak orang yang mabuk pada kekuasaan.
Himawan Dwi Prasetyo, Wait
100 X 120 oil on canvas

Setiap aku menciptakan sebuah proyek, dan aliran uang dari kas organisasi terjadi, orang-orang lebih menyukai berdiam diri. Mereka terlalu malas untuk memperjuangkan kekuasaan. Mereka sudah tidak jujur pada diri mereka sendiri. Padahal jika mereka mau memasukinya, mereka akan terberdayakan. Memang tak ada yang bisa langsung mengais rejeki nomplok, jadi orang kaya baru. Semua harus dilalui dengan perjuangan yang militan.
Resikonya  ketika rumah-rumah itu selesai dibangun dan sepi dari orang-orang yang mau menghuninya, maka ia menjadi semacam proyek gagal bagiku, padahal masih banyak dana yang mesti aku kucurkan.
Terpaksalah semuanya kembali kualirkan kepada sahabat-sahabatku yang itu-itu juga. Dan pastilah aliran dana itu akan mendadani kami para anggota menjadi orang elite di hadapan kalian, membuat orang mulai kasak-kusuk, hendak membangun organisasi lain yang dananya mengalir dari sebuah negeri antah-berantah hingga orang-orang yang mulai menuduh kami telah berbuat korup: dana itu terlalu lama menganggur di kas organisasi, dan karena kehabisan akal, uang itu kami pergunakan untuk berpesiar melakukan studi banding, demi kemajuan organisasi. Itu pun masih cukup murah, akhirnya terpaksa sebagian uang kami pergunakan untuk hura-hura sekedar melupakan ramainya kasak-kusuk kalian.
Terkadang aku sering berteriak, “kalau berani, masuklah ke rumah kami dan mulailah bertarung secara jujur!”. Teriakan itu memang mengundang para pecaring, tapi di sana pertarungan bukan malah terjadi, mereka akhirnya takluk pada kekuasaannya sendiri yang bermuara pada kekuasaan-kekuasaan besar. Mungkin mereka baru menyadari arti sebenarnya kejujuran. Kejujuran adalah usaha menciptakan rumah-rumah organisasi dan mulailah dengan membuat pintu gerbangnya.
3.
Mungkin kalian pikir aku terlalu gegabah memaknai kejujuran. Tapi bolehlah kalian bertanya kepada kata hati masing-masing, ujung dari perjuangan ini tak lain adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah akumulasi dari berbagai kecemasan dan perenungan terdalam mengentaskan kegelisahan yang tak berujung.
Pernah ada seorang pemuda yang selalu keras bersuara tentang proyek-proyek pembangunan kami. Katanya proyek-proyek pembangunan kami meminggirkan kaum yang lain. Aku tertawa mendengarnya, pemuda itu tak tahu arti kebahagiaan sebenarnya.
Apa kalian yakin orang-orang yang bernaung dalam rumah-rumah kumuh itu tidak bahagia?. Aku lihat justru melihat mereka lebih bahagia dari kehidupan kami, tak ada hari-hari mereka tanpa kebahagiaan. Mereka tak pernah mengeluh dengan kemiskinannya. Adapun kesedihan yang diukir para pengemis, itu adalah topeng hasil phantasmenya menghadapi penderitaan. Sebuah karya sebagaimana adikarya para begawan, sebagai hasil permenungan dari kegelisahannya terhadap hidup. Topeng, tak lain semacam kejujuran mengentaskan penderitaan-penderitaan.
Mereka terus menegakan kejujuran setapak demi setapak, membangun tubuhnya sendiri. Esok lusa tiba-tiba aku lihat seseorang dari mereka besar dengan monumen perjuangan mereka sendiri. Siapa yang tahu dengan nasib orang, perjuangannya telah membawanya tinggal di sebuah apartemen mewah.
Aku katakan kepada pemuda itu, sejauhmana ia mendatangi mereka dengan tulus. Sejauhmana ia benar-benar merasakan kemiskinan itu, pemuda itu gelagapan. Ragap dengan kemiskinan yang diperjuangkannya sendiri. Pemuda itu hanya mengalami kemiskinan dari buku-buku tebal tak bernyawa yang bertumpukan bagai kejujuran yang tersandra.
Aku sendiri merasakan kemiskinan persis bagaimana mereka merasakannya, aku ini besar di jalanan. Aku pernah menjadi asongan, menjadi penjaga sebuah pabrik yang bersengketa, pernah menjadi pemulung bahkan tukang parkir. Aku tanyakan pada pemuda itu, berapa penghasilan seorang pedagang asongan dalam satu hari?. Ia tak menjawab pasti, hanya menyodorkan teori-teori sosial yang membuatnya pening sendiri.
Aku tahu pemuda ini cerdas bukan main. Sayang, kejujurannya masih tergadaikan oleh soal-soal akademis. Maka aku tantang dia agar berkenan mampir ke rumah organisasi kami, membenahi persoalan bersama-sama. Ia menggeleng, idealismenya masih memenjaranya dengan taat.
Apapun organisasinya, bagaimanapun haruslah mendekat pada pusat kekuasaan pada kas organisasi. Biar bisa hidup dan bertahan. Tapi pemuda itu malah memilih merdeka, bebas dari kepentingan siapapun. wah…wah ini lagi, jangan-jangan pemuda itu tak pernah tahu arti daripada kemerdekaan.
Kemerdekaan bagiku semacam kumpulan-kumpulan kesedihan yang mengkristal. Dan terkadang kemerdekaan adalah semacam penghancuran kristal-kristal kesedihan itu sendiri.
Ahhh… tiba-tiba aku merasa khawatir pada tatap kemerdekaan pemuda itu: suatu saat karena keputusasaannya mengarungi hidup, justru ia ingin memotong jalan kemerdekaan itu dengan bunuh diri secara terhormat. Kalian tentu tahu maksud dari kata-kataku ini.
“Hidup ini harus dipandang dengan mata yang abu-abu,” kataku padanya.
“Maaf aku hanya meyakini perjalanan yang lurus.” Tukas pemuda itu penuh semangat.
Hari pun memanggil senja melintas di cakrawala, masih banyak yang mesti diselesaikan, pada akhirnya aku hanya bisa berpesan pada pemuda itu dengan penuh kasih sayang sebelum volvo-ku berbelok ke arah keramaian:
“Berhati-hatilah menghadapi kejujuran, kejahatan terjadi karena adanya rasa malas untuk berbicara pada kejujuran tentang penderitaan yang harus dientaskan.”
Lalu tatap pemuda itu penuh dendam menusuk jantungku. Tapi kemacetan di pertigaan jalan lebih menantang dari tatapannya. Kutembus keramaian, keramaian seperti pusat kesunyian dari rasa suntuk dan dendam kesumat orang-orang yang ada di balik kaca kendaraan.

4.
Siapa bilang negeri ini miskin?. Aku saja sekarang sedang menyimpan uang miliaran, aku bingung mau kualirkan ke mana lagi dana ini. Bahkan tiap hari di negeri ini terjadi ratusan juta hingga miliaran transaksi.
Di jalan bebas hambatan, hampir tiap jam kulihat truk besar mengangkut beratus-ratus sepeda motor dan kendaraan mewah. Kalau tidak ada transaksi, mana bisa truk-truk itu berkeliaran bersama debu jalanan.
Negeri ini bukan miskin tapi malas. Malas mengumpulkan uang banyak, lalu orang memilih kredit jangka panjang untuk memiliki sebuah rumah. Malas mendatangi rumah-rumah besar organisasi kami, lalu memilih mengemis. Malas berjuang menegakkan kekuasaan lalu memilih menjadi teroris. Malas menghadapi kecemasan lalu memilih berkonspirasi.
Aku tidak, dengarlah, aku tidak pernah berniat berkonspirasi. Hanya aku bingung saja, uang miliran ini mau kualirkan ke mana, akhirnya seorang pengusaha datang dengan cara meyakinkan untuk meminjam uangku, maka bila besok berdiri sebuah apartemen berlantai 120 janganlah kalian menyalahkan keputusanku: di mata kalian pastilah aku seorang penjahat organisasi yang membela kepentingan para pengusaha.
Aku pernah berniat mengalirkan uangku untuk proyek besar pembangunan sistem transportasi, tapi orang-orang itu, orang-orang yang menjadi corong para sopir bus dan angkutan umum, menghibaku menjadi orang yang tak tahu diuntung. Mereka tak mau kehilangan pekerjaan. Sementara diantara mereka, masih saja ada yang lebih menyukai berkendara dengan kendaraan pribadi ketimbang kereta api atau alat transportasi yang sudah kami sediakan.
Beruntung suatu hari bencana terjadi, banjir dan gempa bumi, kualirkan dana itu pada mereka dengan penuh keikhlasan, sebuah bencana akan membuat sebuah bangsa bisa berubah melihat dunia, itulah yang disebut dengan fenomena cathastrope.
Aku juga pernah mengalirkan uang ini pada orang-orang miskin, tapi payahnya usaha mereka tak pernah bertahan lama. Dan uangku raib begitu saja. Aku jadi bulan-bulanan lawan politikku. Tapi bukanlah aku, jika tak bisa bernegosiasi dengan cara yang paling canggih, mereka lalu berusaha melupakan semuanya.
Uang yang terlalu lama terpendam di sakuku membuatku sering tergoda untuk menggunakannya demi kepentingan pribadiku. Istriku menyarankanku agar uang itu diendapkan pada sebuah usaha restorasi. Aku tergoda, tak ada salahnya kupikir, pendapat istriku itu. Dari pada mengendap terlalu lama. Toh, ini bukan korupsi, ini hanya upaya mengendapkan dana supaya berbuah keuntungan. Dan dua setengah persen dari keuntungan itu akan kusedekahkan pada kemiskinan. Biarlah mereka belajar mengelola uang dengan jumlah yang kecil, nyatanya banyak orang kaya mendadak, stress gara-gara uangnya menguap begitu saja.
Aku mulai memikirkan bagaimana uang itu bisa dicairkan tanpa orang-orang audit itu tahu aku mencairkannya, caranya mudah, aku buat saja rumah organisasi baru, agar orang-orang lingkaran dalam yang menguasai kas organisasi percaya bagaimana aku selalu bekerja dengan baik. Uang itu lalu mengalir dengan mudahnya. Tetapi rumah itu seperti rumah-rumah yang lainnya tetap kosong tak berpenghuni. Tak ada kegiatan sama sekali.
Kalian tertarik menghuninya?
Datanglah ke dalam rumah-rumah organisasi kami akan kuajarkan bagaimana berbuat jujur kepada diri kalian sendiri, dan satu hal lagi yang akan kukatakan pada kalian tentang kejujuran, ia adalah bagaimana caranya bertahan hidup.
Aku bingung ke mana uang ini harus kualirkan? Kalian tak bisa menunggu, datanglah ke sini di rumah besar organisasi kami.
***
Cikarang, 29 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar