Selasa, 08 November 2011

Cerpen

       Sorot Mata
Oleh: M Taufan Musonip

1/
Orang yang kupanggil lewat telepon itu begitu girang saat kukabarkan bahwa dirinya diterima bekerja di perusahaan di mana aku bekerja.

Aku tahu, sebelum ini dia memanggul beban yang berat. Sebagai seorang lelaki dia memiliki tanggung jawab menafkahi anak dan istrinya. Maka saat kukabarkan kepadanya bahwa dirinya layak menjadi karyawan, setidaknya aku telah meringankan beban lelaki itu sebagai kepala rumah tangga.

Aku turut bahagia. Sebab sebagai seorang lelaki aku pernah mengalami betapa bahagianya jika aku bisa bekerja dari masa menganggur yang lumayan lama.

“Kau lulus, karena selain bisa menyetir, pengalamanmu bekerja sebelumnya membuat perusahaan memilihmu.” Kataku.

Dengan memilihnya aku telah mengorbankan calon pekerja yang lain untuk tidak meloloskannya. Semoga aku tidak salah pilih.

Yang aku suka darinya adalah kepandaiannya berbicara. Dengan kelihaian berbicara seseorang telah mengangkat dirinya sendiri dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa. Itulah yang kutahu tentang ilmu retorika Aristoteles.

Maka kehadirannya adalah harapan untuk membesarkanku. Kupikir dia lelaki yang dapat membantu meloloskanku untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dari sekarang. Jika itu terjadi maka aku dan dia akan berbagi kebahagiaan. Aku akan membahagiakan keluargaku sebagaimana dia.



2/
Aku kemudian berhadapan dengan sorot matanya. Itu adalah lubang mata yang dalam yang hampir saja tatapanku tak dapat merengkuh maksudnya. Perkenalan adalah dua tatapan yang saling bertemu untuk menggali maksud awal dari sorot mata seseorang.

Tapi kupikir dia sepadan. Sepadan, dalam artian pada akhirnya dia bisa mengerti apa yang membeku dalam lidahku. Apa yang selama ini selalu tersimpan dalam pikiran akan mendapat peraduannya.

Selama ini aku tak dapat membuka lubang kunci mulut atasanku. Dia ekspat, masih terhambat untuk bisa sekedar mengerti apa yang ingin kuutarakan demi kemajuan perusahaan. Bukan hanya persoalan bahasa. Tetapi dia cukup keras kepala untuk menerima semua pendapatku. Mungkin karena ekspat, dia tak mau dikatakan aku lebih pintar darinya. Menjadi ekspat bukankah dia telah membawa identitas kebangsaan yang terkandung dalam dirinya? Apa jadinya jika aku sebagai seorang pribumi akan lebih pintar darinya? Apalagi dia seorang bos. Atau memang aku tak memiliki kemampuan untuk mempengaruhinya?

Maka aku selalu ingin membuktikan semua pendapatku benar. Tapi aku perlu seseorang untuk pembuktian itu. Orang baru ini kupikir bisa membantuku. Aku percaya pada sorot matanya, setidaknya untuk permulaan: orang ini memiliki bentuk mata yang cukup tangguh dalam menghadapi apapun.

Ternyata benar, dia mampu menyelesaikan transaksi-transaksi yang kuperintahkan kepadanya untuk menyelesaikannya. Secepat kilat dia dapat mengenal dekat para klien, tahap ini aku dapat melihat sorot matanya yang penuh daya pikat.

Keberhasilan yang membuat atasanku tertawa lebar. Dan kupikir ini adalah keberhasilanku pula.

Ternyata orang baru ini bukan sekedar pintar menciptakan transaksi. Dia dapat membantuku menjawab persoalan-persoalan kantor yang sudah bertahun-tahun tidak terjawab. Perlahan-lahan aku dapat menyelesaikannya satu persatu atas sarannya. Dengan ini pekerjaanku semakin bertambah meski gaji yang kudapatkan masih sama seperti yang dulu, setidaknya ini adalah titik awal keberhasilan.

Atasanku kembali tertawa lebar. Dan membuat aku terus bersemangat menyelesaikan masalah kantor satu demi satu. Dan dengan itu intensitas hubunganku dengannya semakin berkurang.

Kulihat ada sorot mata yang lain yang berpancar dari orang baru itu. Saat dia kepergok bersama atasanku mengitari pabrik, para operator, dan mesin produksi. Sesuatu yang sering kulakukan sebelum sibuk seperti sekarang. Dalam sorot matanya kulihat pancaran siasat yang licik. Apa aku tidak salah memilihnya sebagai bawahanku?

Kemampuannya berbicara dapat mempengaruhi bosku dalam menyelesaikan masalah-masalah yang lain.

3/
Akhirnya kami duduk dalam satu meja. Atasanku, Orang baru itu, dan aku. Ini adalah momentum yang aku tunggu-tunggu. Pasti atasanku akan mengumumkan pengangkatanku sebagai seorang manajer.

Kami bersulang dengan bir, seperti yang biasa dilakukan oleh para eksekutif muda saat merayakan keberhasilan.

Maka saat itu adalah paling menentukan hidupku. Atasanku memilih Hendrikus orang baru itu sebagai seorang manajer baru. Dan aku hanya menjadi bulan-bulanan euphoria mereka saja.

Aku seperti dipaksa menangkap bintang diangkasa bersama bir yang sudah aku tenggak. Aku tak mampu mabuk, meski atasanku menginginkannya. Hanya kepalan tinju  yang kulipat di dada, dengan berpura-pura turut bahagia. Apakah aku telah salah memilih orang baru itu?

“Kau tak salah memilih dia!” Seru atasanku setengah mabuk sambil menunjuk ke muka orang baru itu. Mereka kemudian tertawa. Aku juga tertawa, pura-pura tertawa.

4/
Kalau aku menjadi manajer aku bisa membelikan rumah untuk anak istriku. Ternyata kebahagiaan Hendrikus diterima bekerja di perusahaanku tak membuat aku lebih bahagia.

Istriku murka mendengar semuanya. Bertahun-tahun mengabdi, yang didapat hanya rasa kecewa. Yang layak menjadi manajer seharusnya aku. Tetapi atasanku tak menghargai sedikitpun pilihanku terhadap orang baru itu. Ucapan tak cukup. Aku menginginkan kekuasaan. Sebagai seorang lelaki aku menginginkan kekuasaan.

“Papa harus bilang sama Mr Jay. Kalau tidak Papa akan terus disepelekan. Coba takut-takuti dengan pengunduran diri, kalau memang dibutuhkan dia akan takut kehilanganmu.” Kata istriku disuatu malam sambil melipat pakaian seragam anakku, setelah disetrikanya.

Kata-kata itu terus mengiang ditelingaku. Kupikir benar apa kata istriku, kekuasaan adalah hak semua orang.

Maka kusampaikan apa yang menjadi keinginanku. Tapi Mr Jay tak mau terima, dan jika itu pilihannya mundur, dia menyarankanku untuk mundur saja. kali ini ucapan bukan lagi retorika. Ucapan kali ini adalah bumerang yang dapat menyayat lidah sendiri. Begitu sakit.

Hendrikus berhasil menjadi kaki tangan Mr Jay kepadaku dia berkata, “hati-hati dengan bicara. Bicara harus singkron dengan pikiran.”

Pikiran Yang bagaimana?.
“perusahaan tidak membutuhkan pekerja, tapi pekerja yang membutuhkan perusahaan.” Lanjut Hendrikus.

Aku mendebat, Karyawan dan perusahaan sama-sama saling membutuhkan. Tapi dia menimpal, “kamu keluar besok juga sudah ada penggantinya, di belakangmu beribu-ribu manusia mengantre untuk mendapatkan pekerjaan.”

 Mr Jay merasa dibela. Senyumnya sinis dimataku. Lalu aku memperhatikan dan baru sadar bahwa mata Mr Jay dan Hendrikus sama-sama memiliki mata yang sipit. Sama-sama memiliki sorot mata yang licik. Apa karena persoalan bentuk mata Mr Jay lebih memilih Hendrikus daripada aku?

“Aku salah telah memilihmu Hendrikus!.” Kataku dalam hati. Dan karena merasa ditelikung aku memilih mengundurkan diri. Perebutan kekuasaan memang selalu menyakitkan. Tapi rasa sakit selalu membuat orang sepertiku ingin memuntahkan amarah dari luka-luka kecil yang selama ini terbendung.

Saat itu entah mengapa aku mulai mengorek informasi. Dari sopir pribadi atasanku tentang apa-apa yang biasa dikerjakan atasanku sekarang.

“Pada malam hari dari bar biasanya mereka akan menuju lounge di sudut kota, atau bermain biliar sampai pagi.”

“bar mana?” Tanyaku.
“…”
Ah, itu nama bar yang biasa aku datangi bersama klien saat Hendrikus belum genap menjadi kaki tangan atasanku.

Entah apa yang akan aku lakukan. Yang jelas aku merasa marah dengan apa yang mereka lakukan. Mereka berbahagia dari transaksi-transaksi besar yang aku ciptakan baik melalui tangan Hendrikus maupun diriku sendiri.

5/
Di persimpangan jalan, di muka sebuah bar pistolku menanti dua orang yang ingin kuhabisi. Masih ada kesempatan untuk mempertimbangkan bagaimana aku dapat menunjukan sorot mataku yang lebih hebat dari mereka. Mata bulat yang memuat dendam dan rasa sakit selama bertahun-tahun.

Pukul 23.30 pada arlojiku. Tuhan dimana? Tuhan seperti tukang pembuat arloji yang telah membiarkan ciptaannya bergerak sendiri.

Sementara aku masih mengintai mereka dalam suka cita bersama para klien di balik jendela yang sudah lama berkabut. Sejenak terdiam memangku dagu, tak jauh dari bar laju kendaraan dan stopan lampu merah masih menandakan denyut kehidupan perkotaan. Apa maksudnya semua ini?

Dunia seperti tak pernah tidur. Ada yang resah dan bahagia, semua terjaga. Dimana kebahagiaan sebenarnya?, jika orang-orang masih menikmatinya dalam keterjagaan.

Aku ingin terlelap. Tapi tugas belum di selesaikan…
Dan malam semakin larut. (*)
                                                          
Cikarang, 17 Maret 2010
Dimuat di HU Berita Pagi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar