Laman

Minggu, 18 Januari 2026

PUISI






Cakra Atlantika

M. Taufan Musonip

Cakra atlantika telah kupasangkan di keningmu. Suatu mahkota yang nilai keindahannya tak kan pernah tertandingi.

Hanya aku yang sanggup menikmati pesonamu. Dalam khayal dalam hari-hari. Kau telah membuat semuanya ada.

Gemulaimu saat merapikan rambutmu dengan manik-manik penjepit. Membuat pikirku menyelami keperempuananku. 

Kapal-kapal yang kubangun untukmu. Terpaku di dermaga-dermaga kutalaut. Indah, tapi tiba-tiba tak terasa bermakna. 

Hanya melambangkan kegagahanku. 

Sedang kau dengan segala kelembutanmu tetap tak peduli. Bahkan sejak kubawakan cakra atlantika itu untukmu. Kau hanya ingin mempercantik saja.

Itu kudapatkan di kaki gunung Qof! Lautnya lautan zuhud, anginnya angin Al Faqoh. Lampu sorotnya lampu sorot Plato. 

Perempuanku! Seharusnya dengan cakra atlantika kau bersamaku bisa menghayati keberadaan. Dia adalah pagar api, yang menyeret ombak ke daratan, dan kau menyukai keberadaan semesta yang berlanjut.

Dengan api kita mengenal cahaya dan gejolaknya! 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar