Sabtu, 15 November 2025

ESAI

Dzikir dan Seksualitas

M. Taufan Musonip


"Kenikmatan beribadah kepada Allah tanpa kelailaian bisa melupakan kenikmatan duniawi termasuk seksualitas, dan ada Nabi dalam riwayat yang ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir Allah hilangkan syahwatnya, yaitu Nabi Yahya As, bahkan digambarkan sebagai Nabi yang punya kemaluan sangat kecil, gambaran ini tidak merendahkan kemuliaan Nabi Yahya, justru sebaliknya sebagaimana patung-patung filsuf di Yunani yang penisnya digambarkan kecil-kecil.


Lukisan Karya
Jean-Michel Basquiat



Saat perjalanan pulang dari Manakib pusat awal bulan ini (11 Jumadil Awwal 1447H/ 2 November 2025) ada perbincangan menarik di antara para salikin atau musafir di tengah-tengah saya sedang melamunkan intisari kuliah subuh yang speakernya adalah penulis favorit saya yaitu Prof. DR Ajid Thohir, yang menulis buku Gerakan Politik Kaum Tarekat, yang saya ingin bandingkan dengan Buku Tasawuf yang Tertindas Karya Abdul Hadi WM. Keduanya membangun narasi seirama: proses pembangunan jiwa Insanul Kamil untuk menciptakan suatu karya. Abdul Hadi WM pada bidang perpuisian dan Ajid dalam bidang politik. 

Dua akademisi Islam itu mendamaikan amok yang pernah dihembuskan Abdul Hadi, "Politik memecah belah, Puisi mempersatukan!" Ajid seolah berkata bisa sebaliknya dalam jiwa masyarakat Insanul Kamil dalam pendidikan Tarekat. 

Nah, saat saya ingin melakukan dialektika dua narasi besar itu, ada perbincangan seru di mobil yang dikendarai Bang Sanin ---yang sejak berangkat, ngebutnya tidak pernah kami rasakan itu padahal perjalanan sampai ke tujuan relatif cepat, ini karena karakter Bang Sanin yang memang pembawaannya kalem (terimakasih, Bang!)--- yaitu soal apakah dzikir meningkatkan seksualitas atau malah menurunkan?

Ada jamaah yang nyeletuk, bahwa berdzikir membuatnya bisa "naik" setiap malam. Tentu itu menciptakan keriuhan tawa di antara kami.