![]() |
| Lukisan Paul Klee Suffering Fruit (1933) |
"Kaum sufi itu kesederhanaannya diambil dari keahliannya dalam tawakal. Ia tahu memilih guru, ia tahu bagaimana faidah ilmu. Kebodohan dijadikan alat mencari ilmu sekaligus menyeleksi ilmu untuk menopang amal.
Majelis tarekat bak orkestrasi kesederhanaan, orang berduyun-duyun mengantri selepas solat subuh menuju makam Guru Agung untuk ziarah, lalu berbaris mengular menunggu pintu madrasah dibuka, di sana ada Guru Mursyid menanti muridnya untuk disalami (di Suryalaya kini ada Pangersa Ummi).
Kesederhanaan juga merupakan hijab, kita tak pernah tahu hakikat tiap orang di balik jubah kesederhanaan itu. Belum tentu mereka orang faqir baik secara ilmu maupun keduniawian. Jika kita melihatnya seperti itu berarti kita belum kebagian khirqoh kesederhanaan.
Yang jelas, anugerah dari kepemilikan pakaian kesederhanaan itu tak lain untuk memenuhi dalil, jika kau menghadap Allah, tak lah Ia melihat pangkat, jabatan, atau kekayaanmu kecuali pakaian takwamu. Jadi tak lah harusnya merasa aneh penglihatan kita terhadap barisan orang-orang yang nampak faqir itu. Saat itu Allah benar-benar kosongkan hambanya dari rasa memiliki ilmu, harta, dan kedudukan dunia, bahkan ada yang benar-benar Allah bagi anugerah itu sebenar-benarnya di mana kefaqiran membatasi orang dalam mencari ilmu dan harta.







