Tawasulat ke Empat dan Taklim sebagai Fardhu 'Ain
M. Taufan Musonip
"Kalau tawasulat keempat saja kita dikenalkan dan diperintahkan menghaturkan Alfatihah kepada para ahli ilmu, lalu kita masih berani mengatakan menjadi sufi tak harus menjadi alim? Kalau Allah sayang sama hambanya, Allah akan korbankan hambanya demi tegaknya Ilmu Allah.
Kalau Allah menyayangi kita, Allah akan berikan pemahaman tentangNya melalui ilmuNya. Bahkan Allah senantiasa memberikan informasi dalam setiap kejadian yang terhampar dalam kehidupan manusia. Informasi dari Allah ini lah sering kita sebut hikmah.
Ulama seperti Gus Dur bahkan mencari hikmah dalam kejadian-kejadian yang sering disaksikan kaum awam seperti dalam sepak bola, film atau politik. Suatu kejadian yang dijauhi kaum sufi karena takut lalai, padahal tak ada peristiwa yang terjadi di bumi ini bukan karena keterlibatanNya. Justru karena kejadian-kejadian sederhana itulah hikmah yang dipetik Gus Dur bisa menghasilkan berbagai karangan tulisan yang tamadun Islam. Beliau begitu karena hatinya selalu hidup, kalau kita yang masih sering lalai, memang memilih tempat dan kejadian yang langsung bisa selalu membuat mengingatNya, lebih baik.
Islam sangat menekankan pentingnya mendapatkan informasi, dan ketat seleksinya karena harus disaring dengan metode sanad, informasi yang berhasil disaring dengan sanad inilah kita sebut sebagai hadist. Dalam Kitab Mustholah Hadist AtTaisir karya Syech Mahmud Thohan, dijelaskan berbagai macam sanad, ada yang terputus dan ada yang tersambung, ada yang panjang (Najil) ada yang pendek ('ali), ada shohih, hasan dan dhoif. Yang mutawatir atau yang ahad. Dengan seleksi yang ketat ternyata hadist sohih jumlahnya lebih sedikit dari hadist yang kualitasnya di bawahnya.







