![]() |
| Fernand Léger (French, 1881-1955) The Divers. 1941-42 MoMA MoMA,NYC. |
"Tapi untuk mengatakan itu saya merasa kurang ajar, kalau tidak ada protes mungkin Belanda saat perang dunia ke dua akan kembali menjajah Indonesia. Protes itu mengandung kebaikan tergantung kondisinya, karenanya ada Kristen protestan, dan ada juga Islam Protestan.
Membaca pun perlu harmoni, non fiksi dengan fiksi. Sebagaimana kalau belajar, yang tekstual harus ketemu dengan yang oral (guru bertemu murid). Kegemaran membaca buku non fiksi, membuat kita memiliki banyak sekali idealisme yang bersifat langsung. Sedangkan yang langsung, memerlukan cara menerapkannya, membaca buku-buku fiksi membantu kita belajar menerapkan idealisme secara tidak langsung.
Lama sekali saya berkutat membaca buku-buku non fiksi. Yang terakhir adalah Buku karangan Prof Ajid Tohir, Gerakan Politik Kaum Tarekat. Saya harus berhenti di tengah buku dan menyimpan penanda. Rasa kering kerontang melanda jiwa saya, tapi di satu sisi saat sedang menulis saya menyukai berlian-berlian idealisme dalam buku esai saya untai lagi dalam bentuk yang lain yang saya sukai, bacaan-bacaan telah membantu saya menciptakan suatu tulisan dan bacaan esai lah yang membuatnya kokoh.
Dua buku novel dan satu kumpulan cerita fabel saya habiskan, dua novel merupakan cerita sufi klasik, dan yang fabel adalah cerita-cerita yang ditulis Kuntowijoyo. Mau saya ulas satu-satu terutama novel itu sudah sangat dikenal masyarakat, siapa tak kenal Laila dan Majnun dan Hayy Ibn Yaqdzon. Lama sekali saya mencari dari dua novel itu pandangan baru yang mungkin bisa memungkinkan membantu pembaca mengenal sisi lain, tapi karena kesibukan akhirnya saya merupakan rencana itu. Tiga buku tidak saya ulas, dan karenanya rubrik Dari Buku ke Buku lama kosong.







