Foto di penghujung tahun 2025 Dari kiri ke kanan saya, Ustadzuna Taufik, dan Bang Sanin (pemotret).
Foto di atas menjadi penanda penutup perjalanan hidup di tahun 2025. Diberi efek garis elektrik oleh pemotretnya, mungkin agar penikmat foto bisa merasakan kelebatan semangat, harapan akan An-nafs yang sempurna dalam penggemblengan jalan spiritual.
Potret diabadikan di sebuah pos siskamling yang bersih di dekat Saung Kupu-kupu milik Haji Ateng, tempat persinggahan para peziarah di Suryalaya dari Bekasi. Di Siskamling itu Ustad Taufik melakukan wawancara kepada jamaah yang ikut rombongan mobil saya. Tentang tujuan mereka mengambil perjalanan tarekat.
Jawabannya cukup beragam. Tapi hanya saya yang mengatakan tujuan tarekat itu mengenal Allah. Bang Sanin lebih umum, untuk menjalankan rukun agama Islam (Islam, Ihsan, Iman). Tapi saya katakan, bahwa ilmu dalam perjalan ruh itu efek dari merasakan berbagai macam pengalaman perjalanan itu sendiri. Bukan ilmu menjadi tidak penting, justru ilmu akan menjadi penerang perjalanan ini, sekali Anda melangkahkan kaki dalam perjalanan ini Allah sorotkan cahaya Ilmu dalam setiap langkahnya. Ilmu dalam perjalanan ini harus didapatkan dengan kesabaran, sebab langkah kita mengikuti orang yang Syuhud, alatnya adalah kalbu, kita harus benar-benar percaya dahulu Guru Mursyid adalah orang yang mengetahui jalan kepada Allah. Sekali terbit keraguan, ilmu tak akan pernah kita peroleh.
Miniatur
Banyak kitab tasawuf dimulai dengan pembuka bab thoharoh batin, ini ingin menyamai kitab-kitab fiqih yang memulainya dengan bab thoharoh lahir, artinya, ulama tasawuf menyusun keimuannya berdasarkan kebiasaan ilmu Syariat. Keilmuan dalam tarekat itu efek dari perjalanan, tapi Guru Mursyid bukan ulama yang hanya syuhud secara batin tapi juga syuhud secara keilmuan. Setiap langkah dalam tarekat justru menghasilkan keilmuan yang baru. Karena maqom tarekat itu ihsan, di dalamnya ada wira'i, dan manusia, zaman dan lingkungannya adalah suatu hal yang baru terus menerus.
Miniatur perjalanan ruh itu ada dalam perjalanan ziarah Manakib di Suryalaya, para peziarah datang ke Masjid Nurul Asror biasanya dini hari menjelang subuh, datang dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri. Di awali solat witir hingga solat subuh berjamaah yang ditutup Kuliah Subuh, perjalan etape pertama dari safar badani ke safar akali. Setelah itu mengantri ziarah, hingga ngarasy', yaitu musafahah dengan Ummi, wakil dari Abah Anom Ra. yang telah wafat, di mana melalui prosesi ini saat tangan murid bersentuhan dengan Guru Mursyid dianggap telah duduk bersimpuh di arasy.
Lalu diakhiri dengan Manakib, perjalanan naik ke langit dari pengalaman-pengalaman religius Syech Muassis Abdul Qodir Jaelani, yang diyakini bisa menggugurkan dosa para mustaminya. Saat itu tanggal 11 rajab kebetulan jatuh pada tanggal 31 Desember, yang juga esoknya bukan hanya tahun baru tapi juga hari kelahiran Abah Anom Ra. Obat, yang menurut Waktal KH Arief Ichwani, bagi kalbu yang sakit sebagai penyeimbang Aspirin dari Barat untuk sakit kepala.
Sahabat Orang Susah
Dalam perjalanan jamaah subuh-ziarah-ngarasy'-manakib saya membayangkan orang-orang yang mengantri, kebanyakan dari orang yang secara duniawi tidak begitu beruntung, atau paling tidak mereka memakai pakaian sederhana untuk menutupi keberhasilan dunia mereka. Tapi survey membuktikan, orang-orang yang ikut rombongan mobil saya adalah mereka yang bekerja sebagai operator, sopir dan bahkan ada yang masih nganggur, saya melihat wajah-wajah yang jauh dari tampang mafioso yang suka menjarah kekayaan negeri ini.
Jadi betul seperti dikatakan Sidi Syech Rohimuddin pada satu kesempatan: orang susah memang sulit mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi dengan begitu orang susah juga terhindar dari perilaku-perilaku yang merugikan agama dan juga dirinya. Dari kondisi itulah mereka oleh Guru Mursyid dalam perjalanan tarekatnya diajarkan Zuhud, Qonaah, Sabar, Syukur dan Ikhlas tanpa hambatan berarti. Guru Mursyid adalah sahabat orang-orang susah.*
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar