M. Taufan Musonip
"Ibnu Tufail ingin membuktikan bahwa jika manusia tinggal sendiri, ia akan memaksimalkan potensi yang dianugerahkan Allah untuknya. Badan, ruh dan akal, menjadi media untuk mengenal PenciptaNya, Man Arofa Nafsahu sangat berlaku bagi orang yang merasa benar-benar sendiri tinggal di dunia. Hal itu tidak akan terasah jika manusia banyak tergantung pada orang lain.
![]() |
| Lukisan Karya Elena Katsyura ( Rusia,.L. 1973) "Slice of Cytrus" (2013) |
Dalam Tanbihul Ghofilin ada bab khusus membahas tentang pekerjaan. Diawali dengan sindiran keras untuk kaum pemalas: "siapa tidak memiliki pekerjaan, tak ubahnya wanita," lalu sindiran keras lainnya, "siapa tak memiliki kasab, maka ia termasuk orang yang rendah (derajatnya) di mata orang lain," -artinya akan sulit didengar nasihatnya.
Umar Ibn Khattab pernah berkata:
“Sungguh kadang aku melihat seorang lelaki yang membuatku terkagum. Lalu aku tanyakan, ‘Dia punya pekerjaan?’ Jika mereka menjawab ‘Tidak’ lelaki itu langsung jatuh wibawanya di mataku.”
(Kanzul Ummal no. 9858)
Dan dalam Al Qur'an Allah berfirman:
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا
”Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) apa yang Allah berikan kepadanya.” (QS. Ath-Thalaq: 7)
Konon Imam Ahmad pun menjual jasa menjahit baju, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Itu dilakukan supaya ia bebas dari hasrat mencari uang dalam mengajar agama, dalam Mustolah Hadist At-taisir dikatakan, orang alim boleh menerima pemberian materi dari orang lain asal ia sudah tak punya waktu lagi untuk bekerja, hidupnya sudah benar-benar diwakafkan kepada ilmu. Jadi mungkin sudah di maqam tajrid itu, artinya ilmunya sudah benar-benar tinggi dan melimpah. Kalau ilmu masih sedang-sedang saja jangan harap tajrid, carilah kerja untuk menopang peningkatan ilmu, terutama kalau sudah berkeluarga, jangan sampai majelis dijadikan tempat mencari penghidupan, kalau ustad dia, jiwanya akan sulit mencapai jiwa muthmainah.
Lebih Sulit
Kalau pun Allah taqdirkan kita hanya jadi santri atau murid apa salahnya? tidak pernah kurang anugerah yang Allah berikan di titik ini. Tidak merepotkan orang, tidak berharap pemberian. Bebas dalam ikatan, bisa berada di tengah masyarakat awam, lalu jika Allah berikan walayah, kita bisa bersyiar. Dan justru syiar di walayah ini lebih sulit dibanding syiar pada orang di majelis yang sudah jelas benar-benar akan mengaji.
Jangan jadi jiwa yang setengah matang, ingin tajrid, ilmu belum banyak, sering membuat jamaah bingung dengan berbagai kesimpulan yang aneh, ingin terkesan logis karena selalu ingin terlihat alim tapi melawan semesta jamaah atau karena ingin disukai jamaah tertentu, mau mencapai ketinggian bekal juga tak cukup. Bekal materi sangat penting dalam perjalanan ini, jangan dicari hasil dari rebutan lahan dakwah, malu!
Dalam Hayy Ibn Yaqdzon dikatakan, dalam perjalanan menuju Allah harus dilakukan tiga tahap usaha penyerupaan:
1. Penyerupaan diri terbadap sifat hayawaniyah ini penting, karena manusia hidup beribadah dengan badan, badan adalah semacam miskat yang menyelubungi api jiwa yang sifatnya -seperti dalam Tajul Arus- selalu bergerak-gerak tidak tenang, badan jika mengikuti kebutuhan-kebutuhan ruh, maka ia akan mati, dan tidak bisa beramal, karenanya salik perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan badani. Pekerjaan, makanan, kendaraan adalah ciri diri salik memuliakan badannya sendiri sebagai anugerah dari Allah SWT.
2. Penyerupaan diri terhadap bintang-bintang, Hayy mengibaratkannya dengan pekerjaan malaikat yang tak pernah henti, mulai dari pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rotasi yaitu yang bersifat ke dalam diri dan revolusi mengelilingi bintang yang lebih besar. Hayy, menyebut dirinya anak sang waktu, terus mengenal dirinya dan terus mengenal Penciptanya, dengan mengingatnya, hingga mencapai penyaksian. Pada tahap ini Hayy harus mendidik nafsu hayawannya, dari mulai memilih makanan yang bersifat yang dilahirkan dari tanah seperti tumbuhan, sayur-sayuran dan buah buahan, lalu membagi hewan-hewan yang bisa ia konsumsi dan dijadikan kendaraan, Hayy anak sang waktu, bukan anak sang tanah. Ia berburu saat menunggu buah dan sayurannya matang, dan ia pun membagi waktu, waktu untuk beribadah dan waktu untuk bekerja, dan menghindari hal-hal yang mendekatkan badan ke tanah (tidur, makan dan hal mubah lainnya), kalau pun itu di lakukan, haruslah bertujuan untuk menciptakan rasa hudur dan semangat untuk bekerja. Bekerja menciptakan keamanan dari serangan hewan pemangsa dan bakteri yang menyelinap ke dalam badan. Dan pada akhirnya,
3. Hayy berupaya menyerupakan dirinya bagai Penciptanya, ia akhirnya bagai dua sisi mata uang sebagaimana dalam Tao of Islam Sachiko Murata, yaitu khalifah sekaligus hamba, Hayy mengetahui sisi-sisi kasih sayang Allah melalui sifat tegasNya dan kelembutanNya, kini manusia dalam derajat ini, bukan lagi telah syahadah tapi sudah mengalami penyatuan, dalam tahap ini, saat harus memerankan khalifah atau hamba ia rasakan sudah tak lagi ada, semua gerakannya, gerakan Allah, semua antisipasinya adalah keberadaaNya.
Tinggal Sendiri
Hayy adalah seorang manusia yang terdampar hidup sendiri di dalam hutan, Ibnu Tufail Pengarangnya membuka novelnya dengan silang pendapat antar ulama salafus solih apakah Hayy diciptakan oleh Allah langsung seperti Nabi Adam As atau bayi yang dibuang, hal itu entah untuk menciptakan kesan dramatis si tokoh atau memang lahir berdasarkan kisah nyata, Ibn Tufail melukiskan Hayy bahkan dari sisi sains geografis yang memungkinkannya langsung tercipta dari tanah, hutan yang berada di bawah lintasan garis katulistiwa yang memungkinkan mendapatkan sinar matahari sempurna. Tapi jika pendapat ini dibenarkan, maka bukan hanya Nabi Adam yang diciptakan Allah langsung dari tanah, dan itu tidak aneh banyak tafsir Al Qur'an salah satunya Tafsir Jalalain menyatakan Adam manusia yang diciptakan kesekian kalinya dari tanah oleh Allah SWT.
Ibnu Tufail ingin membuktikan bahwa jika manusia tinggal sendiri, ia akan memaksimalkan potensi yang dianugerahkan Allah untuknya. Badan, ruh dan akal, menjadi media untuk mengenal PenciptaNya, Man Arofa Nafsahu sangat berlaku bagi orang yang merasa benar-benar sendiri tinggal di dunia. Hal itu tidak akan terasah jika manusia banyak tergantung pada orang lain.
Ini seperti pernah dikatakan Prof Abdul Hadi WM tentang Anak Dagang yang ia ambil istilahnya dari puisi-puisi Syech Hamzah Fansuri, yang hidup di dunia terasing mengembara berdagang, naik turunnya laba dagang senantiasa mendekatkan anak dagang kepada Allah, dan dalam perjalanan hidupnya ia sebenarnya tengah berniaga dengan Allah, tahu bagaimana yang sedikit di dunia walau nampak besar dan bisa menyelamatkan hakikatnya sangat kecil jika itu memutuskan hubungan diri dengan TuhanNya.
Terputusnya kontak diri dengan Allah, tak akan pernah bisa menerima limpahan ilmuNya yang lebih tinggi dan melimpah lagi, yaitu ilmu-ilmu yang disiarkan melalui berbagai peristiwa yang membuat api jiwa lebih tenang lagi, di balik badan sebagai anugerah yang telah coba dimuliakan melalui berbagai nikmat untuk mengingatNya.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar