Minggu, 22 Februari 2026

Laila Majnun, Hayy Ibn Yaqdzon dan Mengusir Matahari

 


Fernand Léger (French, 1881-1955) The Divers. 1941-42 MoMA MoMA,NYC.


 

"Tapi untuk mengatakan itu saya merasa kurang ajar, kalau tidak ada protes mungkin Belanda saat perang dunia ke dua akan kembali menjajah Indonesia. Protes itu mengandung kebaikan tergantung kondisinya, karenanya ada Kristen protestan, dan ada juga Islam Protestan. 


Membaca pun perlu harmoni, non fiksi dengan fiksi. Sebagaimana kalau belajar, yang tekstual harus ketemu dengan yang oral (guru bertemu murid). Kegemaran membaca buku non fiksi, membuat kita memiliki banyak sekali idealisme yang bersifat langsung. Sedangkan yang langsung, memerlukan cara menerapkannya, membaca buku-buku fiksi membantu kita belajar menerapkan idealisme secara tidak langsung. 

Lama sekali saya berkutat membaca buku-buku non fiksi. Yang terakhir adalah Buku karangan  Prof Ajid Tohir, Gerakan Politik Kaum Tarekat. Saya harus berhenti di tengah buku dan menyimpan penanda. Rasa kering kerontang melanda jiwa saya, tapi di satu sisi saat sedang menulis saya menyukai berlian-berlian idealisme dalam buku esai saya untai lagi dalam bentuk yang lain yang saya sukai, bacaan-bacaan telah membantu saya menciptakan suatu tulisan dan bacaan esai lah yang membuatnya kokoh.

Dua buku novel dan satu kumpulan cerita fabel saya habiskan, dua novel merupakan cerita sufi klasik, dan yang fabel adalah cerita-cerita yang ditulis Kuntowijoyo. Mau saya ulas satu-satu terutama novel itu sudah sangat dikenal masyarakat, siapa tak kenal Laila dan Majnun dan Hayy Ibn Yaqdzon. Lama sekali saya mencari dari dua novel itu pandangan baru yang mungkin bisa membantu pembaca mengenal sisi lain, tapi karena kesibukan akhirnya saya melupakan rencana itu. Tiga buku tidak saya ulas, dan karenanya rubrik Dari Buku ke Buku lama kosong.

Minggu, 08 Februari 2026

Allah yang Memantaskan Kesederhanaan Kaum Sufi



Lukisan Paul Klee
Suffering Fruit (1933)




"Kaum sufi itu kesederhanaannya diambil dari keahliannya dalam tawakal. Ia tahu memilih guru, ia tahu bagaimana faidah ilmu. Kebodohan dijadikan alat mencari ilmu sekaligus menyeleksi ilmu untuk menopang amal. 


Majelis tarekat bak orkestrasi kesederhanaan, orang berduyun-duyun mengantri selepas solat subuh menuju makam Guru Agung untuk ziarah, lalu berbaris mengular menunggu pintu madrasah dibuka, di sana ada Guru Mursyid menanti muridnya untuk disalami (di Suryalaya kini ada Pangersa Ummi).

Kesederhanaan juga merupakan hijab, kita tak pernah tahu hakikat tiap orang di balik jubah kesederhanaan itu. Belum tentu mereka orang faqir baik secara ilmu maupun keduniawian. Jika kita melihatnya seperti itu berarti kita belum kebagian khirqoh kesederhanaan.

Yang jelas, anugerah dari kepemilikan pakaian kesederhanaan itu tak lain untuk memenuhi dalil, jika kau menghadap Allah, tak lah Ia melihat pangkat, jabatan, atau kekayaanmu kecuali pakaian takwamu. Jadi tak lah harusnya merasa aneh penglihatan kita terhadap barisan orang-orang yang nampak faqir itu. Saat itu Allah benar-benar kosongkan hambanya dari rasa memiliki ilmu, harta, dan kedudukan dunia, bahkan ada yang benar-benar Allah bagi anugerah itu sebenar-benarnya di mana kefaqiran membatasi orang dalam mencari ilmu dan harta.