Minggu, 08 Februari 2026

Allah yang Memantaskan Kesederhanaan Kaum Sufi



Lukisan Paul Klee
Suffering Fruit (1933)




"Kaum sufi itu kesederhanaannya diambil dari keahliannya dalam tawakal. Ia tahu memilih guru, ia tahu bagaimana faidah ilmu. Kebodohan dijadikan alat mencari ilmu sekaligus menyeleksi ilmu untuk menopang amal. 


Majelis tarekat bak orkestrasi kesederhanaan, orang berduyun-duyun mengantri selepas solat subuh menuju makam Guru Agung untuk ziarah, lalu berbaris mengular menunggu pintu madrasah dibuka, di sana ada Guru Mursyid menanti muridnya untuk disalami (di Suryalaya kini ada Pangersa Ummi).

Kesederhanaan juga merupakan hijab, kita tak pernah tahu hakikat tiap orang di balik jubah kesederhanaan itu. Belum tentu mereka orang faqir baik secara ilmu maupun keduniawian. Jika kita melihatnya seperti itu berarti kita belum kebagian khirqoh kesederhanaan.

Yang jelas, anugerah dari kepemilikan pakaian kesederhanaan itu tak lain untuk memenuhi dalil, jika kau menghadap Allah, tak lah Ia melihat pangkat, jabatan, atau kekayaanmu kecuali pakaian takwamu. Jadi tak lah harusnya merasa aneh penglihatan kita terhadap barisan orang-orang yang nampak faqir itu. Saat itu Allah benar-benar kosongkan hambanya dari rasa memiliki ilmu, harta, dan kedudukan dunia, bahkan ada yang benar-benar Allah bagi anugerah itu sebenar-benarnya di mana kefaqiran membatasi orang dalam mencari ilmu dan harta. 

Diselamatkan

Ilmu fiqihnya hanya sampai Safinah, hartanya hanya cukup untuk makan, itu pun seringkali mengandalkan manakib. Tapi ia diselamatkan dari kesombongan dan maksiat karena godaan dari kepemilikan harta. Keterbatasan ini pun ternyata anugerah, orang bodoh itu dekat ke sifat dan predikat hamba, dalam berbagai wacana keilmuan sufi, kebodohan itu lekat dengan kepandaian, kalau orang merasa pintar bagaimana bisa menimba ilmu, tapi sumur ilmu pun harus dicari, tidak semua orang punya kesempatan, yang penting di kala ulama datang ke kampungnya ia akan mendatangi. Sufi itu kadangkala bersifat lokal, seperti Abu Yazid Al Busthomi, ia tidak kemana-mana, ada pula yang mengembara seperti Sang Tiupan Tuhan Ibnu Arabi. 

Sufi yang lokal akan menunggu guru datang dan membuka majelis. Sufi lokal menjaga bahasa dan tradisi lokal, Islam menghidupkannya, atau mengaktualkannya. Sufi lokal juga lebih mementingkan bagaimana ilmu bisa diamalkan, jika sulit diamalkan karena kondisi dan lingkungannya tak memungkinkan, ia tak mau habis energi memikirkan bagaimana cara mengamalkan. Paling tidak ia mengamalkannya sekali dalam hidup.

Dan jika ilmu menghambat dirinya untuk beramal maka ilmunya hanya ia simpan untuk pengetahuan semata, bahkan mungkin dilupakan. Ilmu yang menghambat itu ilmu yang tidak menyebabkan tawakal, seperti buat apa berkutat di penelusuran jalur sanad hadis untuk menciptakan dalil ziarah kubur, yang menyebabkan ia malas ziarah, sejauh masih ada para pakar yang bergulat dan punya waktu mendalami itu kaum sufi hanya menikmati hasil akhir dan berittiba pada gurunya.

Seleksi Ilmu

Kaum sufi itu kesederhanaannya diambil dari keahliannya dalam tawakal. Ia tahu memilih guru, ia tahu bagaimana faidah ilmu. Kebodohan dijadikan alat mencari ilmu sekaligus menyeleksi ilmu untuk menopang amal. 

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin melakukan itu, menyeleksi ilmu, dari mulai ilmu dunia hingga akhirat dengan perpekstif mana yang fardhu 'ain mana yang kifayah, mana yang sunnah. Jika ilmu tidak diseleksi untuk menopang amal, maka ilmu akan dijadikan alat untuk menilai dan menghambat amal. 

Imam Ghazali pun membagi dua bilah keilmuan Islam, yaitu muamalah dan mukasyafah. Dan yang mukasyafah itu bersifat lokal, sedangkan muamalah bersifat eksternal. Mukasyafah mengetahui keterbatasan bahwa tak semua ilmu bisa diamalkan. Ahli fiqih yang ahli mukasyafah riset atau observasi masalah muamalah dan ibadah merupakan hasil dari pengamalan ilmu, hukum adat syarat, harus ada fiil syarat dan jawab syarat seperti dalam istilah ilmu nahwu. Tak akan ada adat jika tak pernah ada pekerjaan dan penyelesaian masalah. Sufi menganut paham eksperimentalisme seperti Descartes, pengalaman adalah guru terbaik, tapi selain penyelesaian masalah, sufi harus memetik hikmah. 

Jika kita duduk bersama guru sufi dan murid-muridnya dengan kesederhanaanya, karena ia senantiasa menghadap Allah, di mana status sosial, harta dan jabatan tak ia lihat kecuali takwanya. Dan keadaan itu bagi sebagian besar muridun, Allah yang pantaskan. Bukan untuk memantas-mantaskan diri. Dan itu anugerah. Jika murid sufi yang Allah pantaskan kesederhanaannya (bukan orang sukses di sisi duniawi) ia akan selalu siap dalam solat, baik jadi makmum maupun imam. Berbeda jika orang diberi keluasan dalam kehidupan dunia, bisa jadi akan memiliki kurang rasa diri kehambaan saat akan melakukan solat. Bukan berarti sufi tidak boleh mengejar keluasan dunia, tapi dalam kelompok sufi siapapun akan dilatih menjadi diri hamba, yang semua miliknya hakikatnya adalah milik Allah.*




Tidak ada komentar:

Posting Komentar