"Kalau tawasulat keempat saja kita dikenalkan dan diperintahkan menghaturkan Alfatihah kepada para ahli ilmu, lalu kita masih berani mengatakan menjadi sufi tak harus menjadi alim? Kalau Allah sayang sama hambanya, Allah akan korbankan hambanya demi tegaknya Ilmu Allah.
Kalau Allah menyayangi kita, Allah akan berikan pemahaman tentangNya melalui ilmuNya. Bahkan Allah senantiasa memberikan informasi dalam setiap kejadian yang terhampar dalam kehidupan manusia. Informasi dari Allah ini lah sering kita sebut hikmah.
Ulama seperti Gus Dur bahkan mencari hikmah dalam kejadian-kejadian yang sering disaksikan kaum awam seperti dalam sepak bola, film atau politik. Suatu kejadian yang dijauhi kaum sufi karena takut lalai, padahal tak ada peristiwa yang terjadi di bumi ini bukan karena keterlibatanNya. Justru karena kejadian-kejadian sederhana itulah hikmah yang dipetik Gus Dur bisa menghasilkan berbagai karangan tulisan yang tamadun Islam. Beliau begitu karena hatinya selalu hidup, kalau kita yang masih sering lalai, memang memilih tempat dan kejadian yang langsung bisa selalu membuat mengingatNya, lebih baik.
Islam sangat menekankan pentingnya mendapatkan informasi, dan ketat seleksinya karena harus disaring dengan metode sanad, informasi yang berhasil disaring dengan sanad inilah kita sebut sebagai hadist. Dalam Kitab Mustholah Hadist AtTaisir karya Syech Mahmud Thohan, dijelaskan berbagai macam sanad, ada yang terputus dan ada yang tersambung, ada yang panjang (Najil) ada yang pendek ('ali), ada shohih, hasan dan dhoif. Yang mutawatir atau yang ahad. Dengan seleksi yang ketat ternyata hadist sohih jumlahnya lebih sedikit dari hadist yang kualitasnya di bawahnya.
Tawasulat ke Empat
Hadist yang kualitasnya dhoif bahkan kategori palsu tidak lantas dibuang dan tidak langsung dicabut status hadistnya, hadist-hadist lemah tetap dibiarkan hadir sebagai hadist pembanding, yang menguatkan hadist sohih. Bahkan bukan hanya itu ahli tafsir Qur'an mengumpulkan berbagai macam informasi tentang berbagai hal bahkan tentang kehidupan Nabi Saw dari kaum kuffar Quraisy dan juga Nabi-nabi dalam Al Qur'an dari kaum Yahudi atau Nasrani. Hal itu bisa kita kaji dalam Kitab Jalalain, tentang jalur-jalur lemah dan kuatnya suatu hadits ada dalam tafsir Ibnu Katsir.
Kaum sufi mengapresiasi ahli ilmu tsb dalam tawasulat ke empat Uqudul Jumaan TQN Suryalaya, disebutkan berurutan, Imam-imam Al Mujtahidin, Al Moqulid fi Diin, para Qori yang ikhlas, Ulama Ar Rosyidin, Ahli Tafsir, Muhaditsin dan (pembesar) Sufi Muhaqiqin. Sufi yang berilmu disimpan paling akhir, bukan karena tidak lebih utama dari lainnya, tapi mengisyaratkan pentingnya tawadhu kepada Allah dengan mengatakan: "jika kau menghendaki ilmu, akhirkan dirimu agar kau menyaksikan IlmuNya."
Kalau tawasulat keempat saja kita dikenalkan dan diperintahkan menghaturkan Alfatihah kepada para ahli ilmu, lalu kita masih berani mengatakan menjadi sufi tak harus menjadi alim? Kalau Allah sayang sama hambanya, Allah akan korbankan hambanya demi tegaknya Ilmu Allah. Berkorban waktu untuk senantiasa menghadiri taklim adalah awal langkah, dan jika Allah memberi kita taufik, kita akan diberikan pemahaman dan kemampuan mengajarkan.
Taklim itu fardhu 'ain, dan Bab-bab seperti ilmu Fiqih, Tauhid dan Tasawuf adalah di antaranya, dan harus talaqqi, talaqqi ini melanggengkan tradisi sanad tadi, guru benar-benar ketemu murid. Keberadaan guru adalah simbolitas ilmu, artinya keberadaannya tak bisa dipisahkan dengan ilmunya, sekali saja kita anggap terpisah bukan saja sanad menjadi terputus, tapi melestarikan budaya individualisme yang serba egoistik, yang pada akhirnya akan menggerus budaya komunal menjadi budaya kamar. Orang-orang ekstremis seringkali lahir dari budaya kamar, baik ekstremis radikal maupun ekstremis liberal.
Saling Mengisi
Bukan berarti tidak boleh berdiam sendiri belajar di kamar, justru waktu kita banyak sendiri, hamparan waktu itu harus diisi dengan ibadah dan belajar. Tapi kita tak bisa selalu berkutat dengan teks, harus diimbangi dengan menyambangi para ulama untuk meminta nasihat. Tradisi lisan dan tradisi tulisan dalam Islam tak bisa dibelah, keduanya saling mengisi, teks menghidupkan yang lisan, yang lisan meringankan yang teks. Yang teks melahirkan taklim, taklim-taklim melahirkan banyak sekali kitab. Kitab-kitab menyambung sanad, sanad melahirkan kitab. Sanad dan kitab melestarikan kebersamaan dan kekeluargaan. Tradisi sanad mencerminkan tajalli sifat Ar Rahman Rohim Allah, kalau tanpa itu tak akan ada keterhubungan.
Kalau kita menganggap guru adalah elan vital ilmu, ilmu bukan hanya memperkaya khazanah pribadi, tapi lahir dalam bentuknya yang membimbing. Tarekat dan ilmu tasawuf membimbing ahli ilmu menjadi lebih sabar dalam mengamalkan, ikhlas dalam mengajarkan dan tawadhu dalam intensitas penerimaan ilmu yang terus menerus karena dalam Islam diwajibkan setiap orang menuntut ilmu hingga akhir hayat, "cerdas itu wajib dan bodoh itu durhaka." Begitu salah seorang Kyai pernah berucap.
Jika bodoh itu durhaka maka gali lah ilmu fiqih sampai tahu bahwa menjadi alim dalam bidang fiqih itu mengamalkan ihsan dalam trilogi agama Islam. Sufi dengan pakaian ihsannya bisa menghadapi dengan tenang jika air buat wudhu dihadapnya hanya sedikit, lebih ikhtiat dalam perkara solat jumat jika makmum tidak sampai empat puluh orang atau masjidnya bukan masjid jami yang penduduknya musthauitin (penduduk asli yang mukim) atau muqim (pendatang yang sudah muqim) semua, sufi dengan ikhtiatnya bisa tenang beribadah dalam keadaan safar, suatu kebiasaan ulama sufi yang gemar bepergian, dia tahu jarak yang tepat saat harus solat Qosor, dan dengan ikhtiatnya bisa jadi dia melakukan observasi, apakah jalan memutar yang titik akhirnya dekat dengan tempat ia tinggal masih layak melakukan Qosor?
Kalaupun ia tidak mengqosor solat dia tahu, Qosor itu hukumnya jaiz bukan sunnah. Ikhtiat itu sepadan dengan wira'i, wira'i dalam muamalah, ikhtiat dalam ibadah, semuanya menjadi karakter sufi karena sifat ihsannya (merasa diawasi oleh Allah Swt). Dan bukan saja dalam keadaan darurat, karena sufi adalah ahbaburosul, sufi sangat bergairah menjalankan ibadah sesuai Sunnah. Sampai ia tak kaget jika ada Sujud Tilawah dalam pembacaan surat setelah Alfatihah dalam solat wajib ketika menjadi makmum, semua karena ia ingin solat sebagaimana solatnya Nabi Saw, ia ingin mempelajari semua perihal tentang solat, ibadah yang paling seringkali diamalkan. Jika ilmunya menyebabkan dia oleh Allah dikorbankan menjadi pengajar, ia akan ajarkan solatnya kepada orang lain, jika belum ia akan amalkan untuk diri sendiri, dan ia inginkan Allah selalu berkenan atas ibadahnya.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar