"Kenapa ulama sufi di sisi lain menekankan sami'na wa ato'na tapi di sisi lainnya ia mengatakan ilmu dulu baru amal, itu karena ulama sufi itu pecinta ilmu, Allah itu Al-Ilm, jadi mencintainya berarti juga mencintai IlmunNya, tentangNya.
![]() |
| Born in Niigata on this day in 1878, Odake/Otake Chikuha (尾竹 竹坡, 11 January, 1878 – 2 June, 1936), a Japanese painter at first known for his Nihonga and ukiyo-e paintings. J in 日本 |
تُؤْتِيْۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ بِۢاِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
"(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 25)
Di kalangan tarekat ada yang salah memahami tentang makna dzikir. Dzikir dikiranya hanya menyebut dan mengingat asma Allah berbentuk wirid. Wirid sendiri sering disalah pahami pula dengan pekerjaan khusus mengulang-ulang dzikir.
Padahal akar kata wirid bentuk masdar dari fiil madhi وَرَدَ (waroda) bermakna datang. Isim Makannya berbunyi Mauridun (مَوْرِدٌ,). Kenapa harus kita sebut isim makan (keterangan tempat), agar kita tahu wirid itu harus sampai kepada tempat di mana yang Dipanggil (yaitu Allah Swt) bersemayam. Istilah tasawufnya harus wushul.
Jadi makna kata wiridan itu seirama dengan istilah "kedatangan" dalam bahasa Indonesia. Datang itu bisa dengan badan, suara, roh, harta atau akal, yang penting semua potensi yang Allah bekali untuk manusia di maksimalkan untuk mengingat Allah. Jadi Taklim, solat, zakat, puasa dan haji itu juga wiridan yaitu mendatangi Allah melalui taklim, solat, zakat, puasa dan haji. Kalau dzikir hanya disandarkan pada suara menyebutNya dan akal untuk mengingatnya saja bisa dikira orang sufi itu anti ilmu. Padahal kitab tasawuf itu sangat banyak jumlahnya. Kita bisa analogikan dengan istilah mufrodat رأى (melihat) dalam surat Al Baqoroh ayat 165 dalam Tafsir Jalalain membutuhkan dua maf'ul bih (isim mansub dari fiil Mutaadi) karena bersifat qolbiyah, yaitu adzab (الْعَذَا) dan kekuataanNya (الْقُوَّةَ لِلّٰهِ) bagi orang yang dzolim yang diceritakan dalam ayat itu.
Ketundukan
Ini menandakan dalam Islam hal yang bersifat qolbiah atau bashariah itu sedikit tapi berimbas pada keilmuan yang luas dan membutuhkan orang khusus untuk memahaminya, dalam hal ini para guru mursyid memberi penerangan kepada para muridnya, kecerdasan saja tidak cukup dalam menyelami perjalanan ini, tapi juga ketundukan. Dan kalau murid berhasil meraih ketundukan ia akan mendapat dua bilah ilmu, ilmu syariat dan ilmu hakikat. Keduanya dipakai untuk berdzikir kepada Allah.
Sifat keilmuan dari sisi bashariah juga menghindari jiwa fanatik dan tak mau mendengar nasihat dari majelis lain. Orang tarekat memiliki ulama sufi ahli hadist Hasan Basri, dia terkenal sekali kemuliaannya, dan Imam Malik mengakui itu, dalam tradisi hadist para muhadist mencari sanad bukan hanya pada guru perawi tapi juga pada orang yang lebih awam, atau pada orang yang usianya lebih muda, atau dari bapak ke anak istilah hadist untuk kedua jenis sanad itu disebut Riwayatul Aba an Anba atau Khabir an Shogir (Kitab Mustolah Hadits At Taisir karya Syech Mahmud Thohan). Kepada orang awam saja ulama sufi menadah ilmu apalagi kepada guru di majelis lain.
Perjalanan sufi adalah man arofa nafsahu mengalami rasa keserbaterbatasan dan kekosongan yang karenanya dirinya justru menjadi magnet, ia tak henti berdzikir dengan lisan, kalbu, badan dan harta.
Kenapa dzikir suara berbentuk zahar dan khofi menjadi istimewa karena ia lebih mudah dilakukan, bersifat sangat pribadi, tidak perlu waktu khusus, bisa kapan saja. kalau taklim harus tunggu guru datang minimal, kalau solat dibatasi rokaat, kalau zakat harus punya harta, kalau puasa dibatasi hari, kalau haji dibatasi kemampuan. Dzikir suara apalagi dzikir khofi, bisa sebanyak-banyaknya dilakukan, tidak perlu biaya, dan tak perlu waktu khusus. Tapi bukan berarti kita meninggalkan dzikir dalam bentuk hadir di majelis ilmu, solat-solat sunnah, sedekah atau haji dan umroh.
Dan nyatanya berdzikir dalam bentuk dzikirnya itu lebih sulit secara konsentrasi meski orang tarekat kenal istilah robithoh, dzikir dalam bentuk hadir di majelis ilmu justru lebih mudah khusyuk tinggal duduk dan menyimak guru berkalam. Atau paling tidak dzikir dalam bentuk taklim itu menghilangkan kejenuhan mendawamkan dzikir lisan. Atau mencari tambahan semangat untuk istiqomah dalam dzikir.
Al Ilm
Karenanya dzikir tarekat itu menaikkan derajat seorang manusia menjadi sebenar-benarnya hamba Allah. Dari hanya mengandalkan sedekah suara, seorang hamba juga punya keinginan menyedekahkan raga, harta dan waktunya untuk mendatangi (wirid) Allah dalam bentuk ibadah yang lain terutama mengaji. Jadi ketika ulama sufi mengatakan "dahulukan Ilmu daripada Amal" yang dalam prakteknya justru mendahulukan amal sami'na wa ato'na, maka kita memahami ilmu yang disebutkan lebih dulu itu juga sebagai bentuk wirid.
Kenapa ulama sufi di sisi lain menekankan sami'na wa ato'na tapi di sisi lainnya ia mengatakan ilmu dulu baru amal, itu karena ulama sufi itu pecinta ilmu, Allah itu Al-Ilm, jadi mencintainya berarti juga mencintai IlmuNya, tentangNya. Ilmu itu mutiara perjalanan, karomah yang paling mudah digunakan untuk bersyiar. Tanpa ilmu bagaimana guru sufi bisa mengajak muridnya secara haqqul yaqin.
Ada juga guru sufi yang mengatakan jargon: wushul karena ushul, ushul itu ilmu, ushul itu wirid, dzikir suara harus berbuah ilmu. Manusia tidak bisa duduk terus menyebut dan menggapai nama Allah, ia harus bekerja, bekerja juga wirid mencari nafkah untuk keluarga, harus mengaji, mengaji juga wirid untuk mencari ilmu dan silaturahmi, ilmu dan silaturahmi untuk memperkaya khazanah diri, agar orang yakin dengan tarekat bisa diikuti karena waridunnya (isim fail) gagah, cerdas dan kalau bisa banyak uang. Tanda orang juhud itu berilmu dan banyak harta agar banyak yang bisa dibagi. Tapi kalau tidak, ya cukup berilmu saja, justru orang qonaah adalah orang yang paling Allah jaga dari maksiat.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar