Rabu, 02 November 2011

Esai

  -->Visit Musi dan Kecerdasan Vernakular

M Taufan Musonip
---Pembacaan atas Buku Puisi Eko Putra
Jika menengok dua penyair senior Indonesia  yang sajak-sajaknya memiliki warna-warna kelokalan maka kita akan teringat pada Abdul Hadi WM dan Oka Rusmini.  Abdul Hadi WM, mempercayai bahwa senyawa antara pengalaman batin dan lingkungan tempat sang penyair tinggal akan menjadikan bahasa menemukan tonggaknya sebagai puisi. Hadi, menjadikan Puisi sebagai pengalaman egoistik, sebuah katarsis dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari sebagai perifer dari pengamatan puitiknya.
Sementara Oka Rusmini memberi warna katarsis dalam kacamatanya yang perempuan, dalam sebuah pengantarnya pada antologi puisi Warna Kita, Oka Rusmini yang mengedepankan dirinya sebagai seorang Balian, salah seorang anggota dukun bali yang mengalami pengalaman theurgis dalam melihat Bali sebagai inspirasi.

Esai

-->Perhentian. Absurditas, dan nalar
M Taufan Musonip

Alif
telah menjadi kalimah abadi yang meruang di antara malam-malam sepuluh dan cahaya ganjil sang maut kemudian tergolek di atas sujud-sujud panjang yang terdengar sangat dalam dan menyatu bersama tarikan nafas dan azan lemah dialah seorang bocah yang menyeret kesunyian sebagai mantel, kesepian dan kegelisahan sebagai zikir tak ada yang bertanya siapa sesungguhnya bocah itu orang-orang hanya mendengar suara kehidupan yang samar dari wajahnya. seperti, ayahnya yang berkali-kali membunuh setiap kepingan doa yang meleleh dari airmatanya hingga dirinya sekarat dan menghablur dingin di atas trotoar dan malam
dialah Alif, pembuka kalam dan segenap rahasia semesta bocah yang mengetuk pintu demi pintu bulan menguak masa yang sobek di tangan maharindu, di dadanya..
(Majalah Sabili 17 th. XVII, 18 Maret 2010)

     Ada hubungan yang kuat antara filsafat tragedi dengan absurdisme dan nalar. Tragedi adalah semacam pengalaman pahit seseorang yang sudah terlanjur menjadi takdir. Takdir menuntut perhentian dimana sang pejalan dapat merenungkan apa yang sedang ia alami. Perenungan itu akan membuat takdir menjadi jalan nasib yang menentukan masa depan, sebagai kekuatan untuk tidak menyerah oleh takdir.
     Di titik ini sang pejalan akan dirangsang untuk membuat pilihan-pilihan hidup dan sabab-musabab tentang takdir yang sudah terjadi. Pilihan-pilihan itu akan menjadi bahan absurdisme dalam berkarya, sebab bagaimanapun masa depan adalah sebuah perkiraan, seperti halnya masa lalu kemudian ia menjadi ghaib, tak dapat disentuh oleh indera.