Sabtu, 03 Maret 2012

Esai

Balaghah, Pengarang dan Karyanya
Oleh: M Taufan Musonip

Zaman dekontruksi memautkan kita pada sebuah permainan-permainan bahasa. Membuat kita enggan berpindah ke hal-hal yang lebih besar. Benarkah permainan bahasa mempersulit masuknya unsur-unsur maknawi? Padahal kitab suci sendiri memiliki gatra keindahan, segala makna timbul dalam berbagai bentuk bebunyian. Surat-surat pendek dalam Al Qur’an selalu memiliki bentuk bunyi. Tapi di dalamnya memiliki kandungan kebenaran.

Dalam kitab kuning ada sebuah ilmu tentang perluasan bahasa, yang dimaksud adalah balaghah. Ada baiknya sesekali kita melihat teks puitik dari perspektif balaghah, jika keyakinan bahwa segala sesuatu adalah metafor. Ilmu balaghah meyakini bahwa setiap kata ---sebagai mana keyakinan filsafat dekontruksi--- memiliki ruang penafsiran berbeda. Kemudian jika harapan bahwa sebuah teks memberdayakan pembaca, setiap metafora adalah bukti keunggulan seorang pengarang dalam menciptakan sebuah teks yang multitafsir itu.

Selasa, 24 Januari 2012

Esai

          Ecofeminisme dalam Kajian Dua Karya Sastra
Oleh: M Taufan Musonip

Setidaknya saya telah mendapat cerpen bertemakan tentang eco-kultural. Salah satunya adalah Henning Dorg Karya Yusac Lie (Jawa Pos, 17/10) dan Banun milik Damhuri Muhammad (Kompas, 24/10). Hebatnya, Banun mencerminkan eco-feminisme sebagai penetralisir tema feminisme radikal yang banyak mempengaruhi karya-karya baik penulis perempuan maupun tentang perempuan itu sendiri.
Saya jadi mencoba melakukan rujukan kedua karya tersebut dengan istilah geneologi yang pernah diutarakan Foucault. Pembicaraan Foucault bersumber pada pemikiran Nietzsche tentang asal-usul (usprung) dalam sebuah bukunya Geneologi of Morals.
Foucault membantu saya memahami ajaran Nietzsche dengan membagi kata definisi usprung kedalam arti turunan (herkunft) dan kata kemunculan (entstehung).
Keduanya didudukan ke dalam arti yang saling berlawanan. Usprung bukan lagi persoalan tradisi yang tanpa kritik. Tapi suatu tradisi yang menghidupkan kekinian dengan satu bentuk penafsiran kembali, sehingga seseorang muncul dalam sejarahnya. Jelaslah seperti motif-motif para penulis Nietzshean yang mengarah pada eksistensialisme kata kemunculan menjadi potensi bagi kehendak berkuasa.

Jumat, 30 Desember 2011

Esai

         Proses Kekaryaan dan Komunitas sebagai Kantong Transaksi
Oleh M Taufan Musonip

Gladwell menukil kisah perang pada awal revolusi Amerika (1775) yang ditukangi Paul Revere, seorang pandai perak. Paul Revere menjadi legenda Amerika berkat kepiawaiannya mengobarkan semangat juang kaum milisi Amerika kala itu dengan melakukan kontak kepada para petinggi milisi anti inggris. Dalam buku bertajuk The Tipping Point itu, Gladwell secara khusus membahas soal epidemi sosial yang disebabkan oleh tiga tipe karakter manusia: sang maven, konektor dan para penjaja.
Buku yang merupakan analisa peristiwa-peristiwa aktual itu memaparkan tingkah laku sedikit orang sebagai penyebab problema sosial dan ledakan pasar. Kejernihan dan kesederhanaan dalam menuliskan analisanya, membuat buku itu sohor secara mendunia.
Kawan saya seorang pendiri salah satu komunitas sastra di kota besar mengeluhkan tentang kuantifikasi orang mengikuti diskusi sederhana yang selalu diadakannya secara rutin, tak semeriah dan seramai di dunia maya. Dia mulai mencari cara agar simpati orang terhadap komunitasnya bertambah dengan mengundang pembicara-pembicara penulis kenamaan, dan setiap ia memikirkan itu, secara otomatis berarti  memikirkan berapa anggaran yang harus dipersiapkan untuk melaksanakan acara itu. Padahal dia dan para anggota intinya tidak memiliki cukup dana untuk mengaplikasikan gagasannya ke dalam mekanisme pertemuan rutin.

Jumat, 16 Desember 2011

Esai

  Penguasa, Pengusaha dan Premanisme
Oleh: M Taufan Musonip

Seorang Budong yang mampu mematahkan celurit orang Madura seolah telah menjadi  mitos dalam setiap perbincangan kami. Betapa hebat orang itu, hingga mendapat bagian garapan bisnis limbah, wilayah yang terdiri dari pabrik-pabrik besar. Sarim sendiri, pemilik kos-kosan dua ratus pintu adalah mantan anak buah Budong, menelikung untuk mendapatkan jatah pasokan limbah. Keduanya pernah duduk dalam salah satu organisasi pribumi. Sarim tak lagi menginginkan dirinya memenuhi storan kepada Budong setelah dia berhasil mendapatkan SPK dari perusahaan-perusahaan yang ia tangani, selain berhasil mendekati para preman di tiap pabrik.
Budong tak dapat mengulang sukses seperti saat memecundangi kelompok Madura, karena Sarim melayaninya tidak dengan cara kekerasan, seperti adu kesakten, dia memulainya dengan cara terpelajar, Sarim berhasil mendapat dukungan dari aparat kepolisian dan militer, sebagian karena Sarim pernah terdaftar sebagai anggota kepolisian. Seperti dikatakan kaum pribumi, Sarim memang memiliki kedekatan dengan oknum-oknum di dua institusi itu. Secara perlahan akhirnya Budong merelakan sebagian wilayahnya berpindah tangan kepada Sarim.

Minggu, 20 November 2011

Cerpen

Sang Eksekutor
Oleh: M Taufan Musonip

Aku mencurigai apa yang telah sesungguhnya terjadi di dunia ini, Brigitta. Tidak terjadi sebagaimana adanya kukira, dan tiba-tiba aku hanya harus percaya pada merdu suara dawaimu. Apakah mungkin aku harus mencinta Tuhan melalui dirimu, kasih. Dia seperti menjelma dalam jemari halusmu dalam dawai, dalam merdu lagumu itu.
Tapi ketika kenyataan lewat di kepalaku, aku harus bertanggung jawab pada peristiwa. Aku harus membunuh senja, menikam pagi yang melingkupi tubuh kita. Melumuri keindahan dengan darah. Sebab, kasihku, kau tahu aku adalah sang eksekutor, ditengah perebutan orang-orang memperjuangkan kedamaian. Dan dengan darah kupersembahkan dawai yang melekat di bahumu itu. Di dadaku suara dawaimu bersatu dalam kegelisahan: Dawaimu menyayat-nyayat keberadaanku, kau menciptakan purnama, aku membunuhnya. Kau memberiku pilihan, dan aku bertanggung jawab pada peristiwa, kupilih jalan penuh darah sambil terus menghidupkan bayang-bayang kerinduan terhadapmu.
Matahari meringkuk di pembaringan, bulan berendam di permandian. Arlojiku sudah kumatikan tepat pukul tujuh malam, kita adalah yang membuat semua peristiwa menjelma waktu.
Di jalan ada sebuah mobil menjemputku, dawaimu terus melengking di jauhan, terekam dalam sukma pendengaranku. Mata indahmu terus mengambang di jalanan, terbias oleh kabut malam yang merenda setiap liku jalan.
***

Minggu, 13 November 2011

Esai

Kreatifitas Angkatan Muda dalam Memaknai Kembali Persatuan Indonesia*
Oleh M Taufan Musonip

Angkatan muda dalam sejarah perjuangan Indonesia selalu menjadi faktor utama gerakan perubahan. Lahirnya peristiwa-peristiwa dunia diserapnya secara cepat sebagai pengetahuan yang membuatnya berdaya, ternyata melalui sebuah perkumpulan lah, peristiwa yang telah menjadi ilmu pengetahuan itu direduksi ke dalam sebuah simbol. Simbol itu merupakan pemicu lahirnya semangat kaum muda dalam melakukan perubahan-perubahan.
Gagasan Pemuda pada 1928 yang keluar dalam statement Sumpah Pemuda merupakan hasil perenungan terhadap simbolisasi kata “pencerahan” yang merupakan dampak dari lahirnya peristiwa politik balas budi oleh pemerintah kolonial Belanda. Maka simbolisasi itu menjadi inspirasi bagi segenap angkatan muda dalam tiap perkumpulannya. Meski pada awalnya hanya berkembang pada kalangan priyayi semata.
Bagaimana ikrar Sumpah Pemuda harus menjadi runutan angkatan muda sekarang dalam upaya simbolisasi yang lebih segar? Simbolisasi bahasa, semangat dan kewilayahan Indonesia haruslah merupakan sebuah ruh bagi tantangan bangsa Indonesia sekarang dan masa depan. Sumpah Pemuda sebagai pemahaman nasionalisme belum sampai kepada hadirnya pencerahan pada setiap pergaulan angkatan muda.   

Sabtu, 12 November 2011

Esai

          Motif Perulangan Dalam Ekstase Malna
Oleh: M Taufan Musonip

Tendar.net

Saya memercayai apa yang pernah dikatakan Tia Setiadi1 bahwa Afrizal Malna sampai saat ini masih kuat menghembuskan konsep sufisme pada sebagian besar sajak-sajaknya, meskipun dalam strukturnya Malna menempatkan kosakata yang seolah tak menangkar jangkauan spiritual sufistik itu ---terlebih banyak benda-benda dan ungkapan mundan dan kekinian didalamnya.
Secara fundamental Tia telah mengambil referensi dari Esai Abdul Hadi WM “Nafas Sufisme dalam Sajak-sajak Afrizal Malna” yang pernah dimuat di Harian Suara Karya 1984. Dengan itu kita meyakini bahwa pada dasarnya  Malna memulai aktifitas persajakannya pada saat ia terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat sufistik.
Salah satu komponen terpenting struktur sajak-sajak sufistik adalah hadirnya unsur perulangan, sebagaimana pernah ditelisik oleh JC Burgel. Perulangan identik dengan rasa mabuk atau ekstase, simbol rasa cinta seorang manusia kepada Tuhannya.  

Jumat, 11 November 2011

Esai

             Seni Sastra Islam: Membangun Suasana Islami
Oleh: M Taufan Musonip

Wassily Kandinsky, Untitled.
           Serigrafi / Seriegraphy, 50 x 65 cm
Meskipun sudah cukup banyak perhatian para tetua di dunia seni khususnya sastra, membahas prihal sejauhmana Islam memberi  batasan-batasan terhadap kesenian tanpa mengurangi kehendak seorang seniman yang memegang jati dirinya sebagai muslim mampu menjadikan karyanya di garda terdepan, menjunjung nilai-nilai kesenian sebagai cermin dari upaya pembebasan belenggu penjajahan kemanusiaan namun tetap manusiawi.
Seni bukanlah sesuatu semata-mata untuk menyimpan gagasan. Bukan juga media semata-mata untuk menyampaikan pesan. Seni adalah artefak yang muncul dari pengejawantahan seorang penyair atas eksistensinya. Proses berkesenian adalah upaya menegakan kedirian seorang manusia yang mandiri. Oleh karenanya apakah benar seni sebagian besar merupakan bentuk sekularisasi paling nyata dari agama?
Jika tak bisa dinyatakan demikian, agama seyogyanya haruslah menjadi spirit dari proses berkesenian itu. Fungsi agama sebagai bentuk spirit seharusnya tidak membatasi kebebasan berkreasi, di satu sisi. Di sisi lain semestinya ia menjadi pengaping kebebasan itu ke arah kemanusiaan.