Mencari Jurus Tawadhu dalam Tarekat
M. Taufan Musonip
"Nabi Sulaeman As dalam QS Sad diberi predikat Minal Abd, Innahu Awwab yang dimaknai oleh Gurunda Kyai Muzzaki Aziz dalam pembacaan Tafsir Jalalain sebagai orang yang mudah kembali kepada Allah dan suka berdzikir.
![]() |
| Lukisan Karya @lesleyoldakeart "Detached" |
Kitab Miftah As Shudur Karangan Syech Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin yang diterjemahkan oleh Prof Dr. Aboe Bakar Atjeh dan yang paling mudah didapati di kios-kios pesantren Suryalaya, dibuka dengan pendahuluan dari Penulisnya dengan stampel Al Faqir dibawah tandatangannya.
Saya yang tidak akrab dengan dunia pesantren mendapati istilah Al Faqir tentu merasakan hal yang indah. Guru Mursyid yang terkenal seantero dunia itu menyebut dirinya Al Faqir. Suatu sign yang berkebalikan dengan para penulis filsafat, yang akrab dengan istilah superego. Tasawuf memang ilmu tentang merendahkan ego. Jadi murid tarekat jika dipanggil bodoh tidak usah sakit hati. Bodoh memang bukan padanan yang tepat untuk Al Faqir, tapi ini untuk membedakan faqirnya seorang guru dan faqirnya si murid.
Bagi Murid justru harus senang menyandang nama si Bodoh. Sebab curahan ilmu dari tangan guru Mursyid memang memerlukan perasaan bodoh. Fana fi Mursyid tidak memerlukan pengetahuan sedikit pun, seperti Musa As yang Fana fi Khidr dalam perjalanan spiritualnya. Istilah Al Faqir jarang bahkan sama sekali tidak saya temukan dalam majelis tarekat. Justru saya dapatkan dalam majelis taklim yang pembuka dzikir khotamnya adalah Ratib Al Atos atau Al Haddad.







