Seni dalam Tiga Dimensi Epistemologi
Oleh: M Taufan Musonip
| gis.com.qa |
Jika sintesa tetang seni sedemikian mempengaruhi kejiwaan manusia, maka
seni merupakan satu media yang tak bisa direndahkan di antara sub bidang
keilmuan lainnya. Oleh karena seni adalah jiwa manusia, maka eksistensinya
dapat memberi penerang eksistensi sub bidang keilmuan lainnya. Mungkin kita sering
mendengar ungkapan-ungkapan yang menggandeng seni dengan aktifitas keilmuan
lainnya seperti seni perpolitikan, seni desain dan teknologi, hingga seni
beragama.
Jika seni sebagai objek yang menjelaskan eksistensi kemanusiaan, maka
paradigma kita melihat seni perlu dikaji ulang. Ini merupakan satu tesis yang menyatakan seni dapat bergeser tergantung
siapa yang mengerjakan objek seni, artinya apakah eksistensi seni itu hanya
berakhir pada kedirian si pelaku seni atau dapat menembus batas eksistensi dan
kedirian pelaku seni. Jika seni hanya berakhir pada kedirian si pelaku, maaf,
maka seni baru bersifat memaknai sifat kebinatangan si pelaku. Seni sering
dibatasi oleh sifat-sifat egosentrik si pelaku, karena jika tidak, maka
hilanglah sifat ke-adiluhungan suatu karya seni, seni sering hanya dapat dibaca
oleh kalangan yang mengerti seni itu sendiri.
Identifikasi manusia yang tak dapat mengerti arti sebuah seni yang dibuat
si pelaku, adalah dampak kungkungan egosentris terhadap karya seni yang dibuat.
Dalam hal ini muncullah dikotomi seni rakyat dan seni adiluhung. Seni yang
dapat dimengerti oleh banyak orang dan seni yang hanya dimengerti oleh beberapa
orang.
Namun jangan dulu miris terhadap kata sifat kebinatangan yang tertuang
dalam sebuah karya seni, karena pada dasarnya seni adalah sifat duniawi. Sebuah
makna yang disebut Nietzsche sebagai semangat Apolonian, yaitu upaya
penggambaran dunia yang absurd, immoral, Nafsu hingga dendam. Banyak karya seni
yang memuat hal ini, seperti bangunan piramida di mesir, taman gantung di Mesopotamia dan banyak lagi yang gambarannya hanya dapat
dimengerti oleh beberapa orang yang mengerti esensi seni sekaligus sebagai
sebuah ciri eksistensi kebesaran satu komunitas manusia. Bukankah manusia itu
memendam sifat kebinatangan?
