Buku Penyembuhan Cara Sufi: Mengalir dari Tarekat ke Perpustakaan
M. Taufan Musonip
![]() |
| Karya Fotografi Franco Fontana (1933) |
"Kelisanan membangun komunitas. Keberaksaraan melahirkan perpustakaan."
Buku Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. A. Teeuw.
Kutipan di atas mungkin nampak berbelok dari jalan yang tengah dilalui sufi tarekat. Terlalu kebarat-baratan, meski A. Teeuw seorang Indonesianis. Dan dalam bukunya ia membicarakan Syech Hamzah Fansuri penulis syair dari Barus, Aceh Darusalam yang dalam buku Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, V Bruinessen disebut-sebut sebagai pengikut tarekat Qodiriyah, juga dalam Buku Tasawuf yang Tertindas Abdul Hadi WM, dianggap penyair paling terkemuka yang memengaruhi penyair-penyair besar setelahnya katakanlah Amir Hamzah. Tapi dalam Pergaulan tarekat tidak pernah disebutkan nama besar penyair tersebut.
Tulisan ini belum akan memperkenalkan Syech Hamzah Fansuri. Yang ingin disampaikan di sini sebuah buku Penyembuhan Cara Sufi, Karya Syech Hakim Chisyti, Syech Mursyid Tarekat Chisytiyah. Yang mengingatkan saya pada kutipan A. Teeuw di atas. Ternyata dengan buku tersebut, peradaban sufi bukan hanya melahirkan komunitas sufi tapi juga perpustakaan. Dan sedikit-sedikit mengingat pembahasan tentang kelisanan dan keberaksaraan A. Teeuw. A Teeuw itu orang Belanda, ia lebih memihak pada keberaksaraan sehingga ia mengatakan kurang lebih seperti ini:
Aku tak peduli penulisnya seperti apa, yang kuperhatikan adalah karyanya.







