Sang Eksekutor
Oleh: M Taufan Musonip
Aku mencurigai apa yang telah sesungguhnya
terjadi di dunia ini, Brigitta. Tidak terjadi sebagaimana adanya kukira, dan
tiba-tiba aku hanya harus percaya pada merdu suara dawaimu. Apakah mungkin aku
harus mencinta Tuhan melalui dirimu, kasih. Dia seperti menjelma dalam jemari halusmu
dalam dawai, dalam merdu lagumu itu.
Tapi ketika kenyataan lewat di
kepalaku, aku harus bertanggung jawab pada peristiwa. Aku harus membunuh senja,
menikam pagi yang melingkupi tubuh kita. Melumuri keindahan dengan darah.
Sebab, kasihku, kau tahu aku adalah sang eksekutor, ditengah perebutan
orang-orang memperjuangkan kedamaian. Dan dengan darah kupersembahkan dawai
yang melekat di bahumu itu. Di dadaku suara dawaimu bersatu dalam kegelisahan: Dawaimu
menyayat-nyayat keberadaanku, kau menciptakan purnama, aku membunuhnya. Kau
memberiku pilihan, dan aku bertanggung jawab pada peristiwa, kupilih jalan
penuh darah sambil terus menghidupkan bayang-bayang kerinduan terhadapmu.
Matahari meringkuk di pembaringan,
bulan berendam di permandian. Arlojiku sudah kumatikan tepat pukul tujuh malam,
kita adalah yang membuat semua peristiwa menjelma waktu.
Di jalan ada sebuah mobil
menjemputku, dawaimu terus melengking di jauhan, terekam dalam sukma
pendengaranku. Mata indahmu terus mengambang di jalanan, terbias oleh kabut
malam yang merenda setiap liku jalan.
***