Rabu, 09 November 2011

Cerpen

           Rumah Kejujuran
Oleh: M Taufan Musonip

1.
Apakah kalian percaya kejujuran?, kejujuran bagiku semacam catatan kecil yang kugulung dan kumasukan kedalam botol lalu kuhanyutkan. Sekarang mana ada botol-botol berkeliaran tanpa nama? Apakah kalian hanya mengharapkan gemelataknya saat mereka beradu di sebuah gubuk penadah?
Kejujuran memiliki garisnya sendiri. Terkadang seseorang tak dapat memenuhinya, bukan karena ia tidak jujur, tapi karena ia sedang kalah. Kejujuran bagaimanapun merupakan anak kandung kekuasaan. Camkan ini, anak kandung kekuasaan.
Maka sekarang bagiku kejujuran semacam catatan kecil yang kugulung dan kumasukan ke dalam botol dengan merek minuman tertentu.

Esai

Wacana Uang dalam Agenda Seni Sastra Hari ini
Oleh M Taufan Musonip

Adalah Bandung Mawardi dalam esainya Uang, Modernitas dan Tafsir Sastra telah menuturkan bahwa eksplorasi terhadap tema uang justru masih jarang dilakukan oleh empu-empu sastra Indonesia. Selanjutnya ia berkata:

Kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra1.

Anehnya Mawardi menarik wacananya pada karya sastra yang terbit abad XX tanpa menyebutkan secara spesifik karya mana saja pada masa itu yang menjadi pertanda lahirnya arus besar kesusastraan  bagaimana prihal uang telah benar-benar mempengaruhi kultur masyarakat ketika itu.

Selasa, 08 November 2011

Esai

Eksibisi Budaya dalam Wisata Kuliner Seorang Kritikus
Oleh M Taufan Musonip

Sudjana Kerton, The Dusk (1987),
Cat minyak di atas kanvas /
Oil on canvas, 125 x 148 cm, Inv. 201/SL/A
Banyak komentar dari beberapa teman mengenai rasa nasi bakar yang saya coba jual belum lama ini. Isinya berbagai kritik, saran juga pujian. Saya seorang sastrawan, seperti beberapa orang bilang, tentunya punya cara bagaimana menanggapinya. Sebagai seorang sastrawan, kebetulan saya lebih banyak menulis kritik untuk karya-karya beberapa penyair dan cerpenis.
Dalam dunia sastra kritikus sebenarnya hadir sebagai marketer. Kritik membicarakan apa yang dihadirkan sebuah artefak karya. Dan kritikus yang baik adalah bagaimana membicarakan sebuah karya secara berimbang. Kritik bermanuver dua arah, pada pembaca dia mencoba menarik karya sebagai sebuah artefak yang sesungguhnya dapat dipertimbangkan sebagai sesuatu yang layak untuk dibaca, lainnya adalah memberi masukan kepada pencipta karya untuk membangun karya di masa depan lebih baik.

Senin, 07 November 2011

Cerpen

Melukis Ayuni
Oleh M Taufan Musonip
MILK 3

Karya Alexa Meade, "MILK". menjadikan susu sebagai kanvas, lih.
http://www.merdeka.com/gaya/milk-seni-lukis-di-atas-kanvas-susu.htm

1/
Semua perangkat lukisannya sudah dipersiapkan dalam satu tas. Bintang sudah datang lebih awal dari janjinya, Ini hari yang penting bagi seorang pelukis amatir macam Bintang, karena akan melukis objek perempuan untuk melahirkan karya kontemporer, seorang perempuan yang sudah banyak dikenal orang di dunia pembebasan.
 Setidaknya memang begitulah adanya Ayuni, perempuan cantik ini ingin digambar persis hamparan alam yang tanpa pakaian, sudah sejak masa baligh mungkin ia menginginkan hal itu, semasa ia mulai broken home, semasa ia betul-betul mulai merasakan pemberontakan dirinya terhadap orang tuanya yang aristokrat dan kolot.
 Dalam masa-masa itu Ayuni betul-betul merasakan bagaimana rasanya diusir atau terusir dari kebahagiaan keluarganya, ketika sang ayah memergoki dia sudah bercinta dengan seorang pria dalam sebuah kamar kost-nya.

Esai

Penciptaan Tanda dalam Usaha Meningkatkan Minat Baca
Oleh: M Taufan Musonip

“Kita sendiri adalah bagian akhir dari metamorfosa hurufi”
/1/
Dinamika Keruangan, Fadjar Sidik (1969)
Cat minyak di atas kanvas / Oil on canvas, 94 x 64 cm, Inv. 383/SL/B

Apa yang dapat kita maknai dari kutipan di atas? Frasa itu pernah menjadi jiwa bagi tradisi tarekat aksara abad pertengahan di Persia, di Indonesia tradisi hurufi menjadi begitu berkembang dalam lukisan kaligrafi. Namun bukan lukisan kaligrafi biasa yang dimaksud, ia adalah sejenis tulisan tolak bala yang ditempel di setiap dinding rumah. Kaligrafi itu dibuat dalam kertas putih, dibentuk dalam rupa lingkaran, segitiga atau pedang. Terkadang dinukil pula ayat suci Al Qur’an, bercampur baur dengan huruf-huruf dan gambar-gambar simbolik.
Meski indah, tradisi hurufi seperti ini jarang diapresiasi seperti layaknya lukisan kaligrafi mainstream yang ada di masjid-masjid atau gedongan. Kehadirannya yang sarat simbolik dan selalu ada di rumah-rumah kaum pinggiran, membuat lukisan ini selalu bernuansa klenik. Saya ingin menarik tradisi hurufi tersebut ke dalam wacana budaya literasi masyarakat Indonesia yang dinilai sedang terpuruk.

Sabtu, 05 November 2011

Esai

       Menaklukkan Kegelisahan dalam Perenungan atas Modernitas
Oleh: M Taufan Musonip

1/
Usaha perburuan gagasan telah membuat kegelisahan begitu dirayakan. Kehidupan modernitas sudah begitu mengerikan. Di setiap sudut jiwa selalu bergaung lolong serigala, yang membuat kelelawar selalu beredar menghinggapi tiap-tiap ruang kosong yang telah lama berlumut dan lembab. Itulah yang telah menjadikan kehendak penciptaan terus menerus mengkremus kabut hitam dalam setiap langkah.
Manusia modern sebenarnya bisa jadi  tengah terjebak dalam hegemoni perayaan kegelisahan itu. Ia didesak oleh semacam kebaruan-kebaruan yang hendak diciptakannya. Ketidakmampuan mengatasinya, membuat mereka terjebak dalam jurang-jurang hedonisme, tapi sesungguhnya dia hidup diantara geliat ciptaan-ciptaan, menjadi semacam konsumsi.
Popo Iskandar, Kucing
Cat minyak di atas kanvas /
Oli on canvas, 120 x 145 cm, Inv. 150/SG/A
 (1975),  
Sampai di sana kegelisahan bukan menjadi takluk. Kehancuran gagasan bukan pertanda munculnya kekuatan akan tetapi sebaliknya: sebuah pemandangan tentang peradaban yang runtuh, atau rapuhnya kebudayaan sebuah bangsa.

Jumat, 04 November 2011

Esai

 -->Mencoba Melalui Perjalanan Asketisme

Oleh: M Taufan Musonip
“Mungkin saatnya kita segera mengasingkan diri, Radhar. Ketempat paling asing di dunia ini. Sudah tidak ada yang bisa kita ajak bicara. Kecuali Tuhan sendiri. Di satu tempat yang dingin dan sepi kita akan mendapatkan perkataanNya.”
Kalimat itu yang ingin saya sampaikan kepada seorang Budayawan besar bernama Radhar Panca Dahana. Seorang Budayawan yang pernah tersangkut hukuman oleh Alm. Rendra, hidup dalam pengasingan sebuah sel yang sempit, untuk penempaan diri memahami dirinya sebagai manusia dalam usaha-usaha mendalami ilmu teater.
Sebagaimana Radhar, filosof yang lama mempelajari kebudayaan agama Hindu, Arthur Schopenhauer, memilih moksa sebagai jalan terakhir ketika dunia sedang dilanda tragedi. Diam adalah salah satu solusi ketika manusia lainnya sudah tak lagi dapat diajak bicara.

Cerpen

--> Hujan Darah
Oleh: M Taufan Musonip

Ilustrasi diambil dari Lakonhidup.wordpress.com
merupakan ilustrasi cerpen saya sendiri di Republika
“Aku akan menurunkan darah dari langit jika kalian terus memaksaku meninggalkan tanah ini!” Seru Taksu sambil berdiri dengan gagah menantang barisan buldoser. Siapa percaya kutukan itu, orang-orang hanya percaya bahwa ia sudah gila. Menantang buldoser sendirian.
Dari jauh Lurah Jati berteriak dengan serak supaya Taksu minggir. Tapi Taksu tak bergeming, lebih baik mati dari pada harus merelakan tanahnya. Buldoser terpaksa nekat, menggusur ladang dengan garang. Mereka pikir Taksu akan minggir. Tak selangkah pun ia mundur.
Lima Buldoser tak bergerak berhadapan dengan tubuh kurus Taksu sendirian. Mereka gugup dengan keberanian tua renta itu. Pertarungan sementara berhasil dimenangkan. Untuk mengucap sukur dan menguatkan hatinya membela haknya ia masuk ke dalam gubuk, gubuk bambu tempat para petani biasa bersembahyang.