Sebuah kritik atas karya sastra di era informasi sekarang ini memautkan genre kritik sastra yang mandiri di antara genre-genre sastra lainnya. Muatan seni didalamnya akan lebih pekat ketimbang hanya membicarakan soal orisinalitas karya dan makna yang di bedah sebagai esensi bendawi sebuah teks sastra.
Ini memberi ekses genre kritik sastra akan lebih dilirik oleh para penikmat seni sastra. Atau seperti istilah yang dikemukakan Arif Bagus Prasetyo bukan lagi sebagai jembatan yang dibangun antara sebuah karya dengan pembacanya, namun jembatan mewah yang dibuat sang kritikus sebagai stimulus menikmati genre kritik.
Mencoba Mengangkat Martabat Perempuan ---Hasil Pembacaan Terhadap Buku Puisi Eko Putra
Oleh: M Taufan Musonip
Tercipta keyakinan bahwa mahluk pertama yang diciptakan Tuhan adalah wanita, ia di buat dalam enam masa, sesaat sebelum Tuhan tinggal di atas Arsy (QS 7-54), menjenjang atma, perlu seseorang berperan sebagai pasangannya.
Nampak kontorversial sebenarnya hal itu, sebab seperti kita yakini, justru lelaki awal mula diciptakan, oleh karenanya perempuan diciptakan terakhir dari tulang rusuk lelaki. Tapi ada kalanya fakta yang tersembunyi ini bisa disigi, sebab Ayat Suci jika ia mirip puisi, ada banyak subtansi yang mesti ditaja kembali prihal sisi lain awal mula penciptaan semesta.
Jika menengok dua penyair senior Indonesia yang sajak-sajaknya memiliki warna-warna kelokalan maka kita akan teringat pada Abdul Hadi WM dan Oka Rusmini. Abdul Hadi WM, mempercayai bahwa senyawa antara pengalaman batin dan lingkungan tempat sang penyair tinggal akan menjadikan bahasa menemukan tonggaknya sebagai puisi. Hadi, menjadikan Puisi sebagai pengalaman egoistik, sebuah katarsis dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari sebagai perifer dari pengamatan puitiknya.
Sementara Oka Rusmini memberi warna katarsis dalam kacamatanya yang perempuan, dalam sebuah pengantarnya pada antologi puisi Warna Kita, Oka Rusmini yang mengedepankan dirinya sebagai seorang Balian, salah seorang anggota dukun bali yang mengalami pengalaman theurgis dalam melihat Bali sebagai inspirasi.
telah menjadi kalimah abadiyang meruang di antaramalam-malam sepuluhdan cahaya ganjil sang mautkemudian tergolek di atassujud-sujud panjang yang terdengarsangat dalam dan menyatubersama tarikan nafasdan azan lemahdialah seorang bocahyang menyeret kesunyiansebagai mantel, kesepiandan kegelisahan sebagai zikirtak ada yang bertanyasiapa sesungguhnya bocah ituorang-orang hanya mendengarsuara kehidupan yang samardari wajahnya. seperti, ayahnya yangberkali-kali membunuh setiapkepingan doa yang meleleh dari airmatanyahingga dirinya sekarat dan menghablur dingindi atas trotoar dan malam
dialah Alif,
pembuka kalamdan segenap rahasia semestabocah yang mengetuk pintu demi pintu bulanmenguak masa yang sobekdi tangan maharindu, di dadanya..
(Majalah Sabili 17
th. XVII, 18 Maret 2010)
Ada hubungan yang kuat antara
filsafat tragedi dengan absurdisme dan nalar. Tragedi adalah semacam pengalaman
pahit seseorang yang sudah terlanjur menjadi takdir. Takdir menuntut perhentian
dimana sang pejalan dapat merenungkan apa yang sedang ia alami. Perenungan itu
akan membuat takdir menjadi jalan nasib yang menentukan masa depan, sebagai
kekuatan untuk tidak menyerah oleh takdir.
Di titik ini sang pejalan akan
dirangsang untuk membuat pilihan-pilihan hidup dan sabab-musabab tentang takdir
yang sudah terjadi. Pilihan-pilihan itu akan menjadi bahan absurdisme dalam
berkarya, sebab bagaimanapun masa depan adalah sebuah perkiraan, seperti halnya
masa lalu kemudian ia menjadi ghaib, tak dapat disentuh oleh indera.