Rabu, 02 November 2011

Esai

         -->Menyoal Kritik Sastra di dalam Era Digital
Oleh: M Taufan Musonip

Sebuah kritik atas karya sastra di era informasi sekarang ini memautkan genre kritik sastra yang mandiri di antara genre-genre sastra lainnya. Muatan seni didalamnya akan lebih pekat ketimbang hanya membicarakan soal orisinalitas karya dan makna yang di bedah sebagai esensi bendawi sebuah teks sastra.
Ini memberi ekses genre kritik sastra akan lebih dilirik oleh para penikmat seni sastra. Atau seperti istilah yang dikemukakan Arif Bagus Prasetyo bukan lagi sebagai jembatan yang dibangun antara sebuah karya dengan pembacanya, namun jembatan mewah yang dibuat sang kritikus sebagai stimulus menikmati genre kritik.

Esai

Mencoba Mengangkat Martabat Perempuan
---Hasil Pembacaan Terhadap Buku Puisi Eko Putra
Oleh: M Taufan Musonip

Tercipta keyakinan bahwa mahluk pertama yang diciptakan Tuhan adalah wanita, ia di buat dalam enam masa, sesaat sebelum Tuhan tinggal di atas Arsy (QS 7-54), menjenjang atma, perlu seseorang berperan sebagai pasangannya.
Nampak kontorversial sebenarnya hal itu, sebab seperti kita yakini, justru lelaki awal mula diciptakan, oleh karenanya perempuan diciptakan terakhir dari tulang rusuk lelaki. Tapi ada kalanya fakta yang tersembunyi ini bisa disigi, sebab Ayat Suci jika ia mirip puisi, ada banyak subtansi yang mesti ditaja kembali prihal sisi lain awal mula penciptaan semesta.

Esai

  -->Visit Musi dan Kecerdasan Vernakular

M Taufan Musonip
---Pembacaan atas Buku Puisi Eko Putra
Jika menengok dua penyair senior Indonesia  yang sajak-sajaknya memiliki warna-warna kelokalan maka kita akan teringat pada Abdul Hadi WM dan Oka Rusmini.  Abdul Hadi WM, mempercayai bahwa senyawa antara pengalaman batin dan lingkungan tempat sang penyair tinggal akan menjadikan bahasa menemukan tonggaknya sebagai puisi. Hadi, menjadikan Puisi sebagai pengalaman egoistik, sebuah katarsis dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari sebagai perifer dari pengamatan puitiknya.
Sementara Oka Rusmini memberi warna katarsis dalam kacamatanya yang perempuan, dalam sebuah pengantarnya pada antologi puisi Warna Kita, Oka Rusmini yang mengedepankan dirinya sebagai seorang Balian, salah seorang anggota dukun bali yang mengalami pengalaman theurgis dalam melihat Bali sebagai inspirasi.

Esai

-->Perhentian. Absurditas, dan nalar
M Taufan Musonip

Alif
telah menjadi kalimah abadi yang meruang di antara malam-malam sepuluh dan cahaya ganjil sang maut kemudian tergolek di atas sujud-sujud panjang yang terdengar sangat dalam dan menyatu bersama tarikan nafas dan azan lemah dialah seorang bocah yang menyeret kesunyian sebagai mantel, kesepian dan kegelisahan sebagai zikir tak ada yang bertanya siapa sesungguhnya bocah itu orang-orang hanya mendengar suara kehidupan yang samar dari wajahnya. seperti, ayahnya yang berkali-kali membunuh setiap kepingan doa yang meleleh dari airmatanya hingga dirinya sekarat dan menghablur dingin di atas trotoar dan malam
dialah Alif, pembuka kalam dan segenap rahasia semesta bocah yang mengetuk pintu demi pintu bulan menguak masa yang sobek di tangan maharindu, di dadanya..
(Majalah Sabili 17 th. XVII, 18 Maret 2010)

     Ada hubungan yang kuat antara filsafat tragedi dengan absurdisme dan nalar. Tragedi adalah semacam pengalaman pahit seseorang yang sudah terlanjur menjadi takdir. Takdir menuntut perhentian dimana sang pejalan dapat merenungkan apa yang sedang ia alami. Perenungan itu akan membuat takdir menjadi jalan nasib yang menentukan masa depan, sebagai kekuatan untuk tidak menyerah oleh takdir.
     Di titik ini sang pejalan akan dirangsang untuk membuat pilihan-pilihan hidup dan sabab-musabab tentang takdir yang sudah terjadi. Pilihan-pilihan itu akan menjadi bahan absurdisme dalam berkarya, sebab bagaimanapun masa depan adalah sebuah perkiraan, seperti halnya masa lalu kemudian ia menjadi ghaib, tak dapat disentuh oleh indera.