Minggu, 20 Oktober 2024

ESAI

Orang Awam dan Orang Cerdas dalam Tarekat

M. Taufan Musonip


Lukisan Paul Klee th. 1920


"Kalau bisa seorang malamatiyah menjadi orang yang berhasil dalam usaha dunia, menjadi pejabat negara, atau berhasil dalam karier, untuk membantu masyarakat. Meski begitu, malamatiyyah yang tetap mempertahankan citra keawaman dan akar rumput tetap bisa berkhidmat meski tidak seluas kalangan malamatiyah tingkat elit, akan tetapi tetap merupakan medan hadirnya Sang Khadir tadi.


"Orang akan melihat kita apa yang nampak terlebih dahulu." Ujar Ustad Taufik, pemandu kitab Miftahus Shudur di Majelis An-Noer kampung Kongsi, Bekasi setiap malam Rabu.

Sementara ada juga guru lain yang mengatakan, "jangan lihat dahulu lahirnya, sebab batin orang siapa yang tahu."

Kalam Ustad Taufik mirip satu kisah dalam Persekongkolan Ahli Makrifat Kuntowijoyo, pedagang sate dan gulai dagangnya semakin ramai setelah ia dibaiat menjadi murid tarekat. Orang-orang bukan bertanya apa resepnya sampai bisa banyak orang menikmati masakannya. Tapi siapa gurunya. Karena selain dhohir usahanya rame si tokoh juga semakin rajin beribadah.

Minggu, 22 September 2024

ESAI



Lukisan karya Paul Klee
Moon Play 1923




Mengikis Budaya Tekstualis dengan Pemikiran Falsafi dan Pengkhidmatan

M. Taufan Musonip


"Si calon filsuf harus mematikan api hasratnya. Lingkungan menginginkannya ia berhenti menjelajah alam pikirnya. Sebenarnya bukan saja karena realitas pengetahuan superior ia kalah. Tapi karena realitas bahwa pengetahuan itu sudah menjelma kultural yang membuat ia lebih baik mendatangi pusat-pusat pengetahuan yang menjadikan arah pengetahuannya berjalan ke dalam dirinya. 


Ada video lucu yang berkeliaran di media sosial. Orang berwajah polos sedang mencoba memasukkan kata sandi pada komputernya. Yang dimasukkan sesuai kata yang diperintah layar komputernya. Dia mengetik kata "sandi" keluarlah perintah "kata sandi anda salah", kembali ia memasukan kata "Salah" lalu keluar perintah "silahkan coba lagi nanti' ia memasukan kata "nanti" hingga akhirnya ia tidak bisa menggunakan komputernya.

Ini humor yang lumayan berisi, jika kita punya selera humor tinggi. Meski banyak netizen menganggapnya video iseng biasa.

Orang Indonesia memang berjiwa humoris. Jiwa humoris ini menjadi daya tahan persatuan Indonesia. Meski beberapa waktu belakangan masyarakat Indonesia mengalami keterbelahan. Indonesia masih merupakan negara yang mewadahi masyarakat yang santai. Santai saja, tidak ada yang mengancam kesatuan Indonesia hingga hari ini. 

Selasa, 10 September 2024

ESAI

Pancang Kebijaksanaan dan Peradaban dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan

M. Taufan Musonip




"Adab menjadikan ilmu berkembang, mempertahankan kelestarian kitab klasik dan seharusnya menjadi landasan kitab-kitab kontemporer yang menjadi medan pelestarian kitab-kitab terdahulu.

Iseng-iseng di hari Minggu saya mendapati buku Manusia dan Lingkungannya karya Penulis Belanda. Buku seri filsafat Universitas Atmajaya. Di dalam buku itu ada tulisan tentang "hasrat ingin tahu" sebagai daya pantik seorang manusia bisa menjadikannya seorang filsuf dengan dimulai dari sebuah pertanyaan:

"Apakah seorang filsuf itu dia yang pandai bicara dan sulit dikalahkan (dalam setiap diskusi)?"

Kemudian penulis menyitir kembali arti dari philosopher dari salah satu kamus Bahasa Inggris: Philos artinya yang mencintai dan Sophen yang berarti Kebijaksanaan. Makna filsafat nyatanya tentang kebijaksanaan. Yaitu cara menggunakan dan memperlakukan ilmu.

Jadi dalam alam kehidupan masyarakat Islam, ahlak filsuf itu seharusnya lebih dekat ke sufistik. Kata sophen pun lebih terdengar dekat ke bunyi kata sufi. Kefilsufan itu mungkin awal dari jiwa sufi.

Menuntut ilmu itu memerlukan hasrat. Agar semua penghalang yang menutupi jalannya pencarian ilmu bisa disingsingkan. Hasrat mengetahui ini adalah hasrat alam malakut, hasrat intelektual, tempatnya para malaikat menyampaikan segala ilham. Seharusnya juga dilalui seorang sufi. Karenanya hasrat itu bagai istilah An-Nafs dalam kalam-kalam sufi. 

Sabtu, 31 Agustus 2024

ESAI

Menciptakan Adab dalam Menimba Ilmu

M. Taufan Musonip


"Semua orang yang ada di sekitar kita, duduk, berdirinya, berjalan dan diamnya sudah atas ijin Allah. Ini adalah prinsip utama kaum sufi. Semua orang yang lalu lalang di hidupnya, adalah kado terindah dari Allah.


Lukisan Karya Etiye Dimma Poulsen



Ia membeli dua buah coklat kesukaan anaknya, saat ia melihat si tukang parkir yang mangkal di pelataran Supermarket. Saat itu membeli coklat dan ingat kesukaan anaknya bukan timbul karena dorongan memenuhi rasa kasih sayang anaknya yang sangat menyukai coklat, tapi karena kesal harus selalu menyisihkan uang kembalian untuk membayar parkir. Karena tarif parkir ilegal sudah lazim, kekesalan itu sudah meresap ke alam bawah sadarnya. Ia harus menukar uang pecahan seratusan untuk uang dua ribuan si juru parkir.

Padahal ia bisa saja memberikan uang lebih besar dari dua ribuan untuk si juru parkir. Karena kesal akibat dampak kultural dari kerusakan sistemik yang membuat tukang parkir ilegal ada di mana-mana ia terkena virus bakhil, menukarkan uang menjadi pecahan, dan selintas ia merasa telah memboroskan uangnya. Ingat istrinya tidak lagi memberi terlalu banyak coklat pada anaknya, coklat memang makanan yang konon bisa meningkatkan kecerdasan, tetapi di sisi lain manisnya coklat membuat lidah anaknya tak mau lagi berpetualang mencari kenikmatan pada makanan yang lain. Anaknya jadi kurang menyukai makanan pokok.

Saat ia menghidupkan mobilnya untuk segera pergi dari supermarket itu, si tukang parkir malah tidak kelihatan batang hidungnya untuk melayaninya memarkirkan mobilnya. Apes benar katanya! Sudah memboroskan uang, ia tak dilayani. Letak masalahnya bukan pada "tidak dilayani" tapi pada "membeli coklat" agar uangnya menjelma recehan.

Senin, 13 Mei 2024

PUISI



Lukisan Salvador Dali



Kepak Sayap

M. Taufan Musonip


Sel-sel badanku menguap, wahai Khaldun

Aku berlari terengah engah menuju pintu

Ketakziman. Tersungkur di permadani

Di mana bulu-bulu serbanmu berserak


Kaki dan lututku berdarah, wahai Hujwiri

Aku melihat cahaya lembut merasuk

Kedalam dada matahari. Kudengar gemericik

Air sungai, aku mandi tanpa rasa malu

Aku menginginkan keagungan dan cinta sekaligus. Dan keduanya menjadi kepak sayap Sang Syech

Minggu, 12 Mei 2024

ESAI

 Rasa Pahit Kosmos sebagai Medan Baqo'

M. Taufan Musonip


Cat (1990)
Karya Kayama Matazo
Dari Web Jaded in Japan



"Jamali itu khazanah keindahan Allah yang membuat hambanya merasa akrab, sedangkan jalali itu khazanah keagungan Allah yang membuat hambanya merasa takzim. Yang satu mencetak para wali yang terakhir mencetak para ulama. Yang satu mencetak para Penyair yang satunya politisi. Yang satu sufi yang satu fuqaha.


Di Manakib yang diadakan di H. Agus Kp Kongsi, Ajengan Ubang Asy'ari berkata dalam pengajian Kitab Tauhid Sanusiyah. Bahwa keyakinan itu harus sampai pada tahap rasa. Proses mencapai tahap keyakinan itu ada waham, syak, dzon, dan yakin.

Dalam Tasawuf Modern -Buya Hamka keyakinan juga memiliki tiga tahapan: Ainul yakin, ilmul yakin dan haqqul Yakin. Sedangkan dalam Kajian Qotrul Goits yang diampu Kyai Muzzaki Aziz ditambah lagi dua tahapan yaitu tahapan fana' dan Baqo'.

Baqo' itu menurut Kyai Muda lulusan Al Falah Ploso ini adalah tahapan humanisme: ia yang telah fana yaitu proses peleburan ke dalam sumber pengetahuan dan cinta, hasil gapaiannya akan diaplikasilkan dalam tataran kosmos.

Sachiko Murata (bukunya: The Tao of Islam) dengan apik melukiskan istilah fana dan baqo' dalam konsep Yin dan Yang sebagai adat ketimuran yang lebih dekat kepada Islam. 

Kamis, 25 April 2024

DARI PUSARA KE PUSARA

Menara Masjid dan Maskulinitas

M. Taufan Musonip


Khalwat sering dijalankan para lelaki, memang. Padahal Siti Maria pun melakukan Khalwat dan mendapatkan perbekalan langsung dari Allah sebagai Karomahnya yaitu mendapatkan buah-buahan musim panas ketika ia duduk di mihrab saat musim dingin dan sebaliknya.



Menara masjid adalah bukti maskulinitas. Tapi maskulinitas Islam itu milik semua jenis kelamin. Seperti halnya feminitas. Maskulinitas itu proses menjadi manusia bertakwa, feminitas itu buah dari takwa. Maskulinitas itu Habluminallah, Feminitas itu habluminannas. Maskulinitas itu Ad-Dzikr, feminitas itu Al-Fikr. 


Menara Masjid Agung Banten
Penulis sebelah kanan bersama
Bang Sanin (kiri), putri Ustad Taufik, dan Ustad Taufik (mubaligh TQN). Foto karya Mang Gun.


Maskulinitas itu dalam istilah Al Qur'an disebut Ar Rojul, siapa bertakwa laki-laki atau perempuan berhak menyandang predikat Rojul. Menara masjid menjadi perlambang predikat manusia bertakwa, berbeda halnya dengan perlambang lingga dan yoni di istana-istana kerajaan pra Islam, melambangkan vitalitas paska moksa. Habluminannas di luar istana harus selesai dahulu dengan kebutuhan hawa nafsu. Kalau bisa tak ada lagi sperma yang menetes, dan tidak lapar lagi. 

Moksa -dalam hal ini jangan diartikan sebagai kata yang bersangkut paut pada sebuah agama, hanya istilah untuk untuk menggantikan frasa pengucilan diri- dalam pra islam bisa dikatakan sebagai pesta, melampiaskan hawa nafsu.

Selasa, 16 April 2024

PUISI



Lukisan Pamela Dodds (2022)



Dermaga dan 

Ombak Basmalah

M. Taufan Musonip



Hari ini kami hanya ingin menikmati. Perbekalanmu yang kau kirim dalam kapal Basmalah. Ramadhan membuat kami baru memahami. Kami sekadar dermaga pasrah yang sepi dari ombak rahmatmu.

Esok barangkali orang-orang asing akan kembali datang. Menjejak kami, menuju pasar di negeri nun jauh. Selama bertahun-tahun kami sibuk melayani mereka. Bahkan kami tak sempat melihat terangnya lampu mercusuar yang menangkap gerakmu dari teluk-teluk yang tak henti dilayari.

Ombak yang Engkau giring melalui kapal Basmalahmu. Kini menepikan ikan-ikan. Anak kami girang menampungnya ke keranjang. 

Apakah tanpa ramadhan ikan-ikan ini tak datang bersama ombak?

Tanya mereka.

Lalu mereka mendengar indahnya lenguh suara menara pembakaran penggerak KapalMu.