Sabtu, 12 April 2025

ESAI



Lukisan dari Web Strange Penguin
Kosuke Ajiro


Membaca Tafsir Qur'an Merendahkan Hati dan Mempraktekkan Ilmu

M. Taufan Musonip


"KH Abdul Haris orangnya agak galak, setiap ngaji akan dimulai tatapannya selalu menyorot sudut-sudut ruangan, barangkali ada santri yang tertidur. Selalu mengingatkan anak santrinya untuk serius mendalami Kitab Jalalain suatu kali ia pernah berkata: Rek! Nek arep dadi ilmuwan kudu fanatik Ilmu Nahwu! Ayo diseriusi!

 

Jika Anda ingin membaca tafsir Qur'an dari sisi ilmu Nahwu bacalah Tafsir Jalalain, kalau dari sisi ilmu hadits bacalah Tafsir Ibnu Katsir. Kalau rasionalisme dalam Al Qur'an bacalah Tafsir Hamka, kalau tafsir Al Misbah, ini tafsir tentang hukum kesetimbangan Al Qur'an.

Peletak tradisi tafsir Qur'an itu dari kalangan sufi, seperti ditulis oleh Abdul Hadi WM dalam Tasawuf yang Tertindas yaitu Imam Jafar Shodiq, salah satu Guru Mursyid silsilah TQN. Membaca Tafsir Qur'an itu belajar merendahkan hati atas pembacaan Al Qur'an dari perspektif ulama yang sebagian besar hidupnya dicurahkan untuk Al Qur'an. Membaca terjemahan boleh-boleh saja tapi jika ingin lebih mendalam dan lebih hati-hati bacalah Tafsir Qur'an.

Saat ini saya tengah mengaji Tafsir Jalalain melalui KH Abdul Haris secara online. Secara offline melalui Kyai Muzakki Aziz, tapi waktu itu belum kenal ilmu Nahwu, dan dimulai di bagian-bagian akhir Juz. Kyai muda ini pun dengan penuh kerelaan membantu saya mempelajari ilmu Nahwu, sampai sekarang, meski tidak begitu aktif karena kesibukan Kyai yang juga aktif bekerja.

Minggu, 06 April 2025

ESAI

Kalau Tak Ada yang Buruk, Tak akan Ada yang Baik

M. Taufan Musonip


Lukisan Francis Bacon
Dari Web Francis Bacon (Artis)


"NU ini benteng terakhir umat Islam, jangkar besar kapal Islam bertuliskan rahmatan lil 'alamin, ia ingin kebaikan terus tersiar sampai kapan pun meskipun resikonya ia harus duduk bersebelahan dengan kebatilan. Kalau NU tidak sabar, pergi atau dihilangkan seperti dulu Masyumi, siapa yang akan menyiarkan Islam? Penguasa akan lebih bengis tanpa NU ada disampingnya.


Ada seorang anak mengeluh, ayahnya malah makin galak saat dirinya mulai mau mengaji. Setiap adzan berkumandang, anak-anaknya dipaksa ke masjid. Bahkan saat Adzan Subuh ada satu anaknya yang kena siram air karena sulit dibangunkan.

Ayahnya makin sering larang ini larang itu kepada ibunya. Pernah berantem, karena ibu pergi ke pasar tidak izin. Padahal ibunya memang ke pasar dan setelah itu tak kemana-mana.

Suatu kali, ini yang membuat anak ini merasa mengalami hal yang paling menegangkan dalam keluarganya, ayahnya ingin keluar dari bekerja. Ia ingin beralih usaha dan hanya fokus saja beribadah. Saat ditanya ibu ingin usaha apa, ayahnya bilang teman-teman mengajinya banyak yang usaha dagang keliling. Anak itu tahu ibunya tidak setuju, sebab ayahnya bekerja sekarang sudah cukup mapan membiayai tiga anaknya, apalagi anak yang mengeluh ini ingin kuliah. 

Kalau dalam puisi Layang-layang karya Zawawi Imron dalam kumpulan sajak Bulan Tertusuk Lalang keluarga ini bagai anak-anak yang berkerumun siap berebut layang-layang yang sudah terbang tinggi mencapai ketinggian gunung lalu terputus dan yang diburu adalah layang-layang koyak.

Sabtu, 05 April 2025

PUISI

Di Makam Syech Muhibat

M. Taufan Musonip



O, kesunyianku.

Aku menggantungkan hikayat-hikayat

Di pohon-pohon kamboja

Sebagai buah hakikat

Yang telah kuramu dengan pengetahuan


Jika kau ingin merasakan manisnya

Taruhlah buahnya di depan satir

Makam Syech Muhibat 

Maka pahitnya hakikatku kan terasa manis

Minggu, 09 Maret 2025

ESAI SASTRA

Burung Dara Opsir Pasar dan Suhrawardi

M. Taufan Musonip



Lukisan dari Web Amazing Art
Eleanor Johnson


"Burung tak lagi dijadikan objek simbolitas pergerakan spiritual. Tapi hanya sebagai "simbol yang menandakan", Pak Opsir Pasar yang mencintai burung dara yang nakal itu mengusir para pedagang keluar pagar dan menciptakan pasar dan Bank Pasar swasta. Sufisme di tangan Kuntowijoyo dibenturkan dengan kapitalisme.

 

Burung selalu dijadikan simbol oleh para wali-wali sufi untuk menggambarkan jiwa yang sedang mengalami peningkatan ruhaniah. Mereka menjadi ahli menulis sastra karena pengalaman ruhaniah membuat mereka harus menuliskannya dengan berbagai analogi yang dianyam dari isyarat dan simbol. Tanpa keahlian itu pembaca takkan merasakan indahnya keadaan fana' yang pada kenyataannya terjadi saat si pengarang mengalami perasaan terbakar dalam peleburan penyaksian terhadap Yang Disaksikan. 

Saya meyakini, setiap pengarang berstatus wali sufi itu menulis karyanya berdasarkan pengalam fana', sebagian besar dari mereka kalau tidak guru mursyid, adalah para murid yang mengalami ekstase sungguhan. Bukan menyalin kalam-kalam agama dalam bentuk karya sastra. Karya sastra mereka, benar-benar genuine karya sastra sufi. Orang yang mematut-matut menulis karya sastra bernuansa sufi tanpa mengalami ekstase sungguhan ditambah sepi pemhaman akan kesufian (ilmu tasawuf) akan terasa gersang, kering dari makna teologi, dan hanya tersedia serpihan-serpihan kalam yang bisa berbahaya, dalam rasa keakuan yang tinggi, misalnya mudah menyatakan wahdatul wujud, dan mewujudkan hulul dalam jiwa penulisannya. Padahal ia baru selesai membaca puisi Al Hallaj sudah begitu dia membacanya hanya dalam suatu esai. Belum teruji membaca banyak referensi tentang sufisme. Belum mempunyai rasa penasaran ingin menyelami dunia sufi yang lebih real. Yaitu benar-benar mencari komunitas tarekat.

Jika benar-benar belum merasakan mabuk dalam lautan dzikir, tidak ada karya sastra sufi, dan penulisnya pun tidak boleh langsung mengatakan "aku penulis sastra sufi", tapi kalau berkata "aku peminat kehidupan sufi," lalu dia menulis novel seperti Kuntowijoyo menulis Novel Pasar, itu lebih baik. Karenanya dalam berbagai kesempatan misalnya Abdul Hadi WM, hanya menyiratkan Sastra Sufi sebagai kelas karya sastra klasik. Sastra setelahnya hanya bisa disebut sastra profetik.

Minggu, 16 Februari 2025

ESAI


Peradaban Kaum Sufi Melahirkan Ilmu

M. Taufan Musonip


 

Lukisan Karya Marc Chagall (1964)

Seharusnya kalau telah berhasil mendatangi wali Allah, yang membimbing jiwa kemanusiaanmu, anda akan lebih mencintai ilmu. Tidak ada wali Allah yang lahir tanpa ilmu. 


"Tuntutlah ilmu sampai liang lahat."
Nabi SAW.  Hadits tsb. memberikan peringatan kepada umat Islam untuk selalu belajar.

Jika belajar menjadi kebiasaan, umat Islam akan unggul baik dunia maupun akhirat. Belajar memperketat diri dari hal-hal yang mubah. Ini salah satu bagian penting dari perjalanan suluk pula. 

Pahala belajar agama keruwetannya sama dengan sehari puasa, sedangkan menciptakan sekali waktu belajar dalam sehari bisa sebanding dengan seribu hari beribadah. Belajar agama memungkinkan belajar ilmu-ilmu dunia. Jika sebaliknya memerlukan hidayah untuk sampai kepada ilmu agama.

Semangat menimba ilmu memerlukan adab bertemunya guru dan murid. Maka lestarinya ilmu ditandai lahirnya peradaban. Adab dibentuk oleh kebiasaan berdzikir.  Seringnya berdzikir membuat kita tahu sisi-sisi keterbatasan kita. Bukan sebaliknya. Maka peradaban itu sering gagal karena mistik Islam tidak sejajar dengan keilmuan. Orang kerap bangga jika berhasil menemui seorang tokoh sufi tertentu, mengalami pengalaman spiritual tertentu. Lalu mengabaikan pentingnya majelis ilmu. Hati yang bersih adalah hati yang selalu mendorong pikirannya untuk diaktifkan, ia mendatangi majelis ilmu, lalu membangun masyarakat untuk menghadirkan Allah. Ini girah kaum sufi.

Selasa, 11 Februari 2025

ESAI POLITIK

Pendapat Politik Kaum Sufi

M. Taufan Musonip

"Karena keadaan masyarakat adalah tamuNya. Dan kepemimpinan yang salik adalah pelayanNya, sang hamba yang dibekali jubah khalifah, akan melayani semua tamunya dengan kasih sayang.

 

Lukisan Marc Chagall
Loneliless (1933)

Kaum sufi punya pendapat lain tentang politik. Bukan berarti anti politik dan anti sosial. Jika dibutuhkan kaum sufi akan keluar dari tempat uzlahnya, dan akan ikut menyumbangkan pemikirannya dalam diskusi-diskusi politik.

Nyatanya sekarang banyak sekali calon pemimpin mendekati para ulama yang mungkin juga sebagian menyandang predikat wali. Tapi dengan begitu anutannya tetap saja politik materialisme.

Ideologi politik kaum sufi itu zuhudisme. Perintisnya adalah Abu Bakar Ra. Yang digaji negara atas teguran Umar Bin Khattab kerana hendak berdagang membawa segembol barang dagangan ke pasar. Umar Ra mengkritik Abu Bakar karena khawatir tidak fokus dalam kekhalifahannya dan membawanya ke Baitul Mal Watamwil untuk mendapatkan gaji. Abu Bakar menerima gaji itu, tapi mengembalikannya, saat-saat beliau menjelang wafat.

Kamis, 06 Februari 2025

ESAI



Lukisan Karya Juan Brufal


Manqobah Kyai Jazuli Ingin Bertemu Abah Anom Ra.

M. Taufan Musonip



"Abah selalu lebih dulu datang ke masjid, menunggu muadzin. Jika ada tamu dan mengganggu waktu solat, Abah Anom tetap ikut solat berjamaah menjadi Makmum.

Adalah Ajengan Arief Ikhwani yang kerap kali menyampaikan manqobah Abah Anom Ra. Dia sendiri mengakui kalau pengalaman talqin dzikirnya mirip yang terjadi pada Syech Ahmad Kanji yang didaulat murid oleh Syech Abdul Qodir Jaelani dalam mimpi. 

Abah Anom mendatangi Ajengan Ikhwani jam dua pagi dan menalqin beliau. Sebelumnya beliau adalah seorang peneliti. Memang kalau akademisi karena faktor rasionya yang dominan selalu kesulitan untuk langsung meyakini pentingnya bermursyid dalam beragama. Harus ada peristiwa yang membalikkan akalnya lebih dulu baru yakin dan percaya.

Saat coba-coba bertanya ingin ditalqin, Abah Anom Ra. Hanya bilang, "kamu kan udah ditalqin."

Seperti biasa sebagaimana disampaikan dalam berbagai kesempatan Kyai Ikhwani selalu membuka manqobah dengan kata-kata seperti ini:

1905 aspirin lahir di Barat untuk obat pusing, di timur jauh dilahirkan seorang Mursyid Kamil Mukamil untuk obat hati yang berpenyakit.

Selasa, 04 Februari 2025

ESAI

Gerbang Kajembaran Rahmaniyah dan Makna Keberkahan dan Al Faqir

M. Taufan Musonip





"Hanya dengan kebersihan jiwa, makna kata al faqir dan keberkahan bisa menjadi bekal intelektual yang cukup menjejaki gerbang Kajembaran Rahmaniyah itu. Tanpa itu hanya ada satu bekal lagi yang mungkin, yaitu kesulitan hidup. 

 

Gerbang Kajembaran Rahmaniyah didatangi orang berbagai kalangan. Tapi yang nampak adalah kaum akar rumput. Seakan orang tarekat itu hanya diminati oleh kalangan bawah semata. 

Orang yang ingin datang mengalap berkah kesana harus memastikan diri dahulu jiwa individualnya dikalahkan oleh keinginan mendapatkan hakikat ilmu. Hakikat ilmu ini dekat dengan keberkahan.

Banyak orang yang menyambangi gerbang kasih sayang ini tidak mendapatkan apa-apa. Karena ia tak mampu melawan jiwa egoistiknya. Ingin belajar dzikir, tapi setelah mendapat ijazahnya tak diamalkan dzikirnya. Padahal di sana ada ajengan Sandisi, beliau menalqin dzikir dari sisi hukumnya, benar-benar bersumber dari Alqur'an dan Hadits. 

Sampai selepas Talqin, Ajengan yang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahunan ini sering berkata: dzikir ini bukan perintah Suryalaya tapi perintah Al Qur'an dan Hadist.

Baraka

Gerbang Kajembaran Rahmaniah ini sejalan dengan istilah Barokah yang tersemat di kitab Miftahus Shudur dan istilah Al Faqir yang mengiringi jiwa arif Guru Mursyidnya.

Barokah itu asal kata dari Baraka, artinya tetap, berarti menetapnya diri seseorang pada tempatnya. Sedangkan istilah Al Faqir ini adalah jubah kehambaan: puncak dari ilmu tasawuf.