Jasa Ulama Kurdi untuk Indonesia
---Amalkan Kitabnya, Jangan Banyak Tanya Seperti Orientalis
M. Taufan Musonip
Kita sama sekali tak merasa mempunyai hutang jasa terhadap orang Kurdi yang sekarang tengah mengalami status suku bangsa yang stateless dan mengalami penindasan di berbagai Negara.
Lukisan Karya Sritam Banerjee
"Sunday"
1
Martin Van Bruinessen dalam buku Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat menelusuri jejak hubungan emosional ulama Kurdi dan Indonesia. Di antaranya melalui kitab-kitab yang populer di Indonesia yaitu Maulid Barjanzi juga Buku Tanwirul Qulub yang pernah diucapkan Ajengan Beben dalam Manakib di Masjid Syech Quro beberapa waktu lalu.
Kini orang Kurdi itu tak memiliki Negara, walau cukup memiliki pengaruh di beberapa Negara seperti Iran, Irak atau Turki. Jadi sekarang kalau kita melihat penderitaan orang Kurdi di tv atau di kanal Youtube, seharusnya bisa lebih empatik.
Jejak hubungan Ulama Kurdi dan Indonesia juga bukan saja melalui kitab, tapi juga melalui ijazah tarekat. Salah satunya Syech Ibrahim Al Kurani, memegang ijazah tak kurang dari lima tarekat. Tak pelak dua ulama besar Indonesia seperti Syech Yusuf Makasari (penulis buku Safinah Al Najah) dan Abdul Rauf Singkel (Penulis Tafsir Jalalain) mendapat ijazah dari Syech Al Kurdi tersebut. Yang pertama Khalwatiyah, Syech Yusuf kembali ke Indonesia dan menjadi penasehat kerajaan Banten, aktif melawan kolonialisme Belanda. Dan Abdul Rauf Singkel mendapatkan Ijazah Tarekat Syattariyah dan menyebarkannya di Indonesia, dia menetap 9 tahun di Mekkah dan menulis kitab Umdah Al Muhtajin: kitab tentang sepintas mengenai kehidupan di kota-kota suci.







